cerita hidup
oleh Ridha Annisa Sebayang pada 26 Oktober 2010 jam 15:03
kulaju sepeda motor merahku merentas angin. satu harapan besar yang kupunya,,, agar dapat melihatmu pergi. mski hanya punggung yang terlihat,aku kira itu cukup. namun harapan itu begitu tipis. kulihat waktu di arloji,,semakin berat rasanya. Sedikit frustasi,namun tetap kuyakinkan diri untuk tetap ke bandara.
Hari itu Minggu pagi. untuglah jalanan cukup lengang di kota ini. di dalam hati aku mengutuk diri. "Seansainya tak kupaksakan untuk membuat sesuatu pagi ini, pasti aku akan bisa mengantar kepergiannya."
benar saja dugaanku. Setengah berlari kuhampiri pintu terminal keberangkatan luar negeri, kuhampiri sosok seorang teman yang kukenal. "Sayang sekali, dia baru saja masuk." Ingin benar rasanya menangis saat itu, tapi kutahan.
dengan gontai aku bejalan ke parkiran sepeda motor. dengan penyesalan yang teramat,,namun tak dapat kumengerti mengapa aku meyesal. teringat kembali percakapan di siang hari sebelumnya dengan dia. "Insya Allah besok di bandara," ucapku pasti saat itu mengakhiri percakapan terakhir kami. 'ya sudahlah, mungkin memang tsk rejekiku',' hiburku dalam hati.
kembali kulaju sepeda motor keluar dari komplek bandara ke arah tempatku bekerja, namun tak sampai merentas angin. pikiranku berkecamuk, tak tahu mengapa. setetes, dua tetes, tiga tetes air mataku keluar dari genangan air di pelupuk mata. tak pernah aku begini.. Menitikkan ari mata dalam diam dan keheningan hati dan jalan raya. bahkan saat mengetahui seorang pria yang pernah sangat kucintai menikah pun aku tak merasakan rasa yang seperti ini.
Berulang kali aku menenangkan diri dengan menarik napas panjang. Sejujurnya, aku tak mengerti rasa apa yang kumiliki untuknya. atau lebih tepatnya, belum baerani aku untuk menafsirkan rasa yang ada. Selama ini, kunikmati saja keberadaannya. namun begitu mengetahui dia akan pergi untuk beberapa tahun, rasa takut kehilangan menyerangku. tapi untuk menyimpulkan itu 'cinta' aku tak mau.
begitulah. Setelah hari itu aku selalu berusaha melupakannya. namun bayangannya tetap ada. bahkan saat aku mendengar puisi dan lagu GIE 'cahaya bulan', aku membayangkan tengah berdiri bersamanya di atas air terjun kecil yang biasa aku kunjungi. menatap hutan-hutan yang mulai suram.
...to be continued...
Hari itu Minggu pagi. untuglah jalanan cukup lengang di kota ini. di dalam hati aku mengutuk diri. "Seansainya tak kupaksakan untuk membuat sesuatu pagi ini, pasti aku akan bisa mengantar kepergiannya."
benar saja dugaanku. Setengah berlari kuhampiri pintu terminal keberangkatan luar negeri, kuhampiri sosok seorang teman yang kukenal. "Sayang sekali, dia baru saja masuk." Ingin benar rasanya menangis saat itu, tapi kutahan.
dengan gontai aku bejalan ke parkiran sepeda motor. dengan penyesalan yang teramat,,namun tak dapat kumengerti mengapa aku meyesal. teringat kembali percakapan di siang hari sebelumnya dengan dia. "Insya Allah besok di bandara," ucapku pasti saat itu mengakhiri percakapan terakhir kami. 'ya sudahlah, mungkin memang tsk rejekiku',' hiburku dalam hati.
kembali kulaju sepeda motor keluar dari komplek bandara ke arah tempatku bekerja, namun tak sampai merentas angin. pikiranku berkecamuk, tak tahu mengapa. setetes, dua tetes, tiga tetes air mataku keluar dari genangan air di pelupuk mata. tak pernah aku begini.. Menitikkan ari mata dalam diam dan keheningan hati dan jalan raya. bahkan saat mengetahui seorang pria yang pernah sangat kucintai menikah pun aku tak merasakan rasa yang seperti ini.
Berulang kali aku menenangkan diri dengan menarik napas panjang. Sejujurnya, aku tak mengerti rasa apa yang kumiliki untuknya. atau lebih tepatnya, belum baerani aku untuk menafsirkan rasa yang ada. Selama ini, kunikmati saja keberadaannya. namun begitu mengetahui dia akan pergi untuk beberapa tahun, rasa takut kehilangan menyerangku. tapi untuk menyimpulkan itu 'cinta' aku tak mau.
begitulah. Setelah hari itu aku selalu berusaha melupakannya. namun bayangannya tetap ada. bahkan saat aku mendengar puisi dan lagu GIE 'cahaya bulan', aku membayangkan tengah berdiri bersamanya di atas air terjun kecil yang biasa aku kunjungi. menatap hutan-hutan yang mulai suram.
...to be continued...
Comments
Post a Comment