Secercah Mimpi Anak Pinggir Rel




            Meski harus bermandi peluh untuk mencri setitik nafkah, takkan kubiarkan barang sedikit langkahku goyah. Meski tak banyak perhatian dari pemerintah, demi masa depan cerah, demi sebuah mimpi dapat menginjakkan kaki di bangku kuliah, takkan kubiarkan diriku pasrah.”
            Sebait tulisan di atas menggambarkan secercah kecil harapan dari bocah bernama Markus. Bocah delapan tahun ini tak seberuntung anak-anak lain seusianya. Di usianya yang terbilang belia, ia harus mampu mencari nafkah demi kelangsungan hidup dan pendidikannya.
            Meski masih memiliki orang tua yang lengkap, bukan berarti Markus dapat menikmati masa kecilnya sebagaimana anak-anak seusianya. Di pagi hari bersekolah, siang hingga malam hari mencari nafkah. Tuntutan ekonomi keluarga menjadi pemicunya.
Keadaan memaksa Markus dan keluarganya tinggal di pinggiran rel, kawasan yang tak seharusnya dihuni. Kebakaran yang melahap rumahnya beberapa tahun silam, membuat ayah Markus memboyong keluarganya untuk tinggal di pinggiran rel di sekitar jalan Asia Medan.
Markus bersekolah di sebuah SD Negeri di kawasan Thamrin Medan. Sehari-hari sepulang sekolah, Markus dan teman-temannya biasa ‘nyari’ di sekitar jalan Juanda. Namun, mereka juga seirng berpindah-pindah tempat.Mulai dari ngamen hingga ngemis mereka lakoni. Setiap harinya, Markus harus dapat mengumpulkan tak kurang dari Rp. 50 ribu. Jika tidak dapat mengumpulkan sebanyak itu, pastinya Markus akan dimarahi ibunya.
Tak jarang Markus mengalami hal yang tidak menyenangkan dari pengguna jalan ketika ‘nyari’. Meski demikian, Markus tetap saja menjalankan aktivitasnya. Setidaknya Markus lebih beruntung karena masih bisa bersekolah. Banyak juga anak-anak usia sekolah di sekitar tempat tinggal Markus yang tidak diizinkan bersekolah oleh orang tuanya. Bagi mereka, yang terpenting adalah mencari uang, bukan ilmu.
            Ketika saya ajak berbincang, Markus terlihat waspada meski tetap mau meladeni setiap pertanyaan yang diajukan. Saya sempat terperangah mendengar penghasilan yang harus diperolehnya setip hari sebesar Rp 50 ribu. Ketika saya katakan bahwa saya tidak mampu menghasilkan uang sebanyak itu dalam sehari, dengan wajah polosnya Markus menatap saya heran.
            Markus memang masih begitu polos. Yang dia tahu hanyalah mencari ilmu dan uang dengan caranya. Tak peduli apa pandangan orang tentang aktivitasnya mencari nafkah, yang dia tahu hanyalah menaymbung hidup dan pendidikannya.

Comments

Popular Posts