cerita Hidup II
“Wow! Keren banget,” seruku.
Saat itu aku melihat sosok pria muda yang secara fisik aku suka, dan aku yakin dia pria cerdas. Temanku lantas memperhatikan ke mana arah aku memandang.
“Suka, Dha?” tanyanya kaget.
“ya, suka-suka aja sih,” jawabku santai.
Mengapa dia terkejut? Pria itu adalah asisten dosen salah satu mata kuliah pada semester itu, semester tiga. Mata kuliah ini salah satu mata kuliah yang paliang aku sukai di semester itu. Terlebih lagi aku suka dengan cara sang asdos mengajar, diskusi. Meski hampir sebagian besar teman di kelas tidak begitu menyukai caranya.
Cerdas. Itu barangkali kata pertama yang akan kaluar dari mulutku bila harus mengucapkan sesuatu tentang sang asdos. Aku tidak tahu dasar apa yang aku pakai untuk mengatakan itu. Hanya keyakinan pribadiku saja.
Waktu itu menjelang ujian akhir semester dua. Sang asdos memberikan tugas akhir berupa tugas kelompok. Dari salah seorang senior di kampus, aku berhasil mendapatkan nomor teleponnya. Setelah membuat janji via telepon seluler, kami, aku dan seorang teman dekatku, menemuinya di ruangannya untuk mengumpulkan tugas itu. Tak banyak kami bicara saat itu.
Jujur saja, aku mengagumi asdos itu. Lagi-lagi tak ada dasar yang pasti mengapa aku mengaguminya. Setiap kali aku melihat sosoknya, bila sedang bersama teman-temanku, aku selalu bertingkah aneh. Hanya gurauan memang, dengan ekspresi seolah ada dewa yang turun menghampiriku. Salah seorang temanku menanggapi gurauan ini dengan gaya lebih heboh lagi. Cukup sering ini terjadi. Dan entah mengapa, gurauan ini semakin menjadi. Berubah menjadi sebuah taruhan konyol, yang tentunya juga merupakan lelucon bodoh.
“Siapa yang bias merebut perhatian sang asdos dan jadian dengannya, maka yang kalah akan menanggung segala bentuk akomodasi selama sebualn.” Kataku dengan serius yang dibuat-buat.
“Oke! Siapa takut,” jawab temanku tak kalah serius. Satu hal yang pasti, ini hanyalah sebuah lelucon.
Begitulah semua terjadi. Aku sendiri tak tahu bagimana awal mula aku bias begitu dekat dengan asdos itu. Tanpa sepengetahuanku, ternyata temanku memiliki hubungan yang lebih dekat lagi dengan asdos itu. Aku hanya berkomunikasi dengannya jika hendak diskusi dan memang ada hal yang menurutku penting. Sementara tmanku, mereka berkomunikasi layaknya teman yang sudah lama mengenal.
Kerisauan itu muncul saat kuketahui, melalui temanku itu, sang asdos akan melanjutkan studi S2-nya ke luar negeri. Saat itu kurang lebih satu bulan sebelum keberangkatannya.ingin rasanya aku tak percaya. Entah mengapa ada rasa keberatan jika aku tak lagi melihatnya di kampus.
Aku merasa telah mempermainkan sang asdos. Walau dia tak pernah tahu permainan yang kami buat. Lanatas aku bicarakan kerisauanku pada temanku.
“Gimana kalau kita ceritakan semuanya sama abang itu?” tanyaku
“Buat apa? Toh dia gak tahu apa yang kita lakukan selama ini. Biarkan saja ini jadi rahasia kita berdua,” ujarnya.
“Benar, sih. Tapi aku ngerasa gak enak aja. Lagian kan dia akan ke luar negeri. Kalau kita jujur juga gak ada ruginya kan?” aku ngotot.
Kami sepakat untuk menceritakan semuanya. Merasa kami telah dekat sebagai teman, bukan sekedar asdos dengan mahasiswanya, ada sedikit keringanan untuk bercerita. Entah mengapa percakapan itu berlanjut pada bagian yang (tak) aku suakai. Kami saling membuka perasaan yang sebenarnya akan sosok asdos. Ya, bermula dari sebuah lelucon bodoh untuk memiliki, rasa itu berubah menjadi nyata dalam hati masing-masing.
“Jadi Kamu serius ada rasa padanya?” tanyaku lirih.
Dia mengangguk. “Ya,” lirihnya.
“Sejak kapan?”
“Entahlah,” jawabnya seraya mengangkat bahu. “Kamu sendiri?”
Aku hanya tersenyum. Kemudian mengangguk kecil, “Sama. Aku juga,”
Kulihat air mukanya berubah. Mata kami saling beradu, menatap tajam. Tak percaya dengan perkataan dari teman masing-masing. Cukup lama suasana hening ini berlangsung. Meski saat itu suasana halaman kampus cukup riuh, aku tak merasakannya. Entah apa yang ada di pikirannya saat itu.
Kemudian aku paksakan senyumku mengembang. Kuupayakan sebegitu natural, kemudian aku tertawa lepas. Tak terlihat saat itu hatiku meragu. Tawa khasku membahana memecah keheningan di antara kami.
“Terus Kamu pikir Aku serius?” tanyaku dengan nada bercanda, “ya enggak, lah!”
Dia lantas tersenyum, meski masih terlihat wajah jengkelnya karena merasa telah aku permainkan. “Kamu, tuh, ya. Bisa aja!”
Kami kemudian tertawa bersama. Apakah aku menikmati? Ya. Aku nikmati setiap tawa yang ada, setiap tangis yang tersembunyi, setiap risau yang melanda.
setelah membuat janji untuk bertemu dengan sang asos, dengan alasan aku ingin diskusi, kami pun bertemu di halaman kampus, tempat mahasiswa biasa berkumpul. Temanku, dengan alasan tak mau mengganggu kami (padahal aku tahu dia gugup), memilih duduk agak jauh dari kami. Diskusi itu biasa saja. yang istimewa adalah dag dig dug jantungku yang tak henti-henti selama percakapan kami. Beruntung aku punya keahlian menutupi perasaanku, bahkan yang terdalam sekalipun.
Aku kehabisan bahan untuk didiskusikan. Kemudian, dengan hati-hati aku sampaikan permainan konyol yang telah kami buat. Saat itu, temanku telah bergabung bersama kami. Beragam perasaan berkecamuk di haitku, mungkin juga pada temanku. Tanpa terduga, sang asdos hanya tersenyum dan menggelengkan kepala kemudian tertawa.
Begitulah akhirnya beban itu terangkat. Permainan berakhir dengan perasaan nyata pada kami, entahlah bagaimana perasaan asdos itu. Aku terlalu takut memaknainya. Yang jelas, dia memang lebih dekat pada temanku, bukan aku. Meski setiap kali diskusi dengannya, aku yang lebih banyak berbicara daripada temanku. Aku hanya diam menikmati perasaanku sendiri, sungguh sendiri.
Hari ini adalah hari terakhirnya di kota ini. Terakhir kalinya kami menemuinya sebelum keberangkatannya besok. Terasa garing percakapan hari itu. Tidak semulus pada hari-hari biasa. Besok pesawatnya akan berangkat jam 7 pagi. Temanku berjanji akan mengantarkan. Aku mengatakan akan berusaha untuk mengantarnya juga.
“Sampai ketemu besok ya,” kataku pasti mengakhiri pembicaraan kami. Dia hanya mengangguk dan tersenyum, manis. Manis sekali dengan wajahnya yang menunjukkan kecerdasan mendalam.
Sampailah pada hari keberangkatannya. Aku membuat donat kesukaanku, kuharap dia juga suka. Kesibukan sepupu-sepupuku, yang pada saat itu menginap di rumah, menggangguku. Sangat lama rasanya menyelesaikan seluruh donat itu. Aku tahu tak akan sempat, tapi aku tetap melaju dengan sepeda motor merahku ke bandara.
Untung saja jalanan hari itu lengang. Berkali kulirik arloji di tangan, semoga sempat, batinku. Setelah memarkirkan sepeda motor di tempat yang tepat, aku berlari ke terminal keberangkatan luar negeri. sambil setengah berlari aku kirim SMS padanya bahwa aku sudahtiba, dan kuharap dia masih menungguku.
Di terminal keberngkatan, kudapati temanku berdiri menatap ke dalam ruang check in. Kusapa dia dan menanyakan keberadaan asdos itu.
“Dia baru saja masuk,” katanya padaku.
Aku hanya menatapnya lemas. Kuserahkan donat yang telah ubuat pada temanku. Ah, andai saja tak kubuat donat itu. Tak lama, masuk SMS balasan darinya, “Maaf dek, abang sudah di dalam pesawat.”
Aku pun kembali melaju sepeda motorku ke arah tempatku bekerja hari itu. Namun tak sampai merentas angin seperti saat berangkat. Satu tetes, dua tetes, tiga tetes air mataku menyentuh pipi.
Comments
Post a Comment