Pikirku, Pikir Rakyat
Mengatasnamakan kesejahteraan rakyat
Kau daki kursi itu untuk kau duduki
Dengan berpijakan pada kepalaku, rakyatmu
Kau pongah duduk di atasnya
Kini aku diam menonton
Memperhatikan tingkahmu menjual diri
Aku diam bukan karena takut padamu, bukan pula hormat
Tapi aku jijik
Jijik untuk mengotori mulutku dengan menghujatmu
Apa? Mengapa kau menatapku berang?
Ha, kau malu
Oh bukan, kau tak punya malu
Kukira kau pastilah takut
Takut aku mengetahui caramu membusuki diri sendiri
Menjilati ludah dan kotoran
Tak peduli milik siapa
Kenapa tatapanmu kian sinis padaku?
Apakah pikirku ini salah?
Lantas mengapa kau hanya diam?
Mengapa kau biarkan semua pikirku ini mengangkasa?
Mengapa tak kau bungkam otakku agar tak begitu?
Selama ini kau begitu banyak bicara
Mengapa kini kau tak mampu mengklarifikasi?
Ataukah pikirku ini memang fakta?
Ahh sudahlah
Urusi saja dirimu
Biar Tuhan yang urusi aku
Kau daki kursi itu untuk kau duduki
Dengan berpijakan pada kepalaku, rakyatmu
Kau pongah duduk di atasnya
Tak kau lirik sedikitpun aku
Tapi mulutmu terus berujar namaku untuk rupiah dan dolarKini aku diam menonton
Memperhatikan tingkahmu menjual diri
Aku diam bukan karena takut padamu, bukan pula hormat
Tapi aku jijik
Jijik untuk mengotori mulutku dengan menghujatmu
Apa? Mengapa kau menatapku berang?
Ha, kau malu
Oh bukan, kau tak punya malu
Kukira kau pastilah takut
Takut aku mengetahui caramu membusuki diri sendiri
Menjilati ludah dan kotoran
Tak peduli milik siapa
Kenapa tatapanmu kian sinis padaku?
Apakah pikirku ini salah?
Lantas mengapa kau hanya diam?
Mengapa kau biarkan semua pikirku ini mengangkasa?
Mengapa tak kau bungkam otakku agar tak begitu?
Selama ini kau begitu banyak bicara
Mengapa kini kau tak mampu mengklarifikasi?
Ataukah pikirku ini memang fakta?
Ahh sudahlah
Urusi saja dirimu
Biar Tuhan yang urusi aku
*Dimuat di www.suarausu-online.com
pada 10 Juli 2011
Comments
Post a Comment