Jawaban Untuk Mas Igun


            “Sudah malam. Kau tidurlah dulu. Besok Kau masih harus kuliah kan?”
            “Iya, Mas. Sebentar lagi. Pekerjaanku masih belum selesai.”
            “Istirahatlah. Sekarang sudah jam 12. lanjutkan saja pekerjaanmu itu besok pagi.”
            “Tanggung, Mas. Begitu selesai, Aku akan langsung tidur. Mas tidurlah duluan.”
            “Begitu sibuknya Kau, hingga untuk merebahkan diri sejenak pun Kau tak punya waktu?”
            Aku hanya diam tak bergeming. Aku tetap memfokuskan diri pada layar laptop kesayanganku. Menanggapinya berbicara hanya akan membuat percakapan ini semakin panjang. Artinya, menguras waktuku untuk menyelesaikan pekerjaanku.
            “Kau selalu begitu jika diajak bicara,” kudengar ia bergumam. “sebenarnya untuk apa sih Kau lakukan semua ini?” nada bicaranya ketus. Lantas dia meninggalkanku begitu saja di ruang tengah.
            Deg. Hatiku terenyak dengan pertanyaannya. Untuk apa semua ini aku lakukan? Pertanyaan yang dulu selalu menghampiriku namun sekuat tenaga kutepis. Karena aku memang tak pernah menemukan jawabannya. Dan bagiku, pertanyaan itu hanya akan menghambatku untuk berkembang. Lantas aku selesaikan pekerjaanku malam ini.
            Pertanyaan Mas Igun tadi masih terus memenuhi kepalaku hingga saat aku beranjak ke tempat tidur. Pertanyaan itu sangat sederhana. Sangat mendasar. Namun mengapa begitu sulit untuk menemukan jawabannya? Apakah setiap manusia pasti akan kesulitan ketika berhadapan dengan pertanyaan mendasar mengenai yang dilakukannya?
            Tiba-tiba rasa sesak menyelimuti dadaku. Pening bergelayut di kepalaku. Wajahku memanas, air menggenang di kelopak mataku. Malam ini dingin.  Tapi aku enggan menggunakan selimut. Berharap suhu dingin mampu menghilangkan rasa panas di wajahku. Tapi gagal. Air pun semakin membanjir di kelopak mataku. Ahh, aku benci rasa yang seperti ini. Rapuh sekali aku rasanya.
            Teringat kembali pesan terakhir ibu kepada Mas Igun untuk menjagaku. Pesan yang membuat Mas Igun sangat protektif. Bahkan membatasi ruang gerakku. Belum pernah dia menyakitiku. Ibu sepertinya benar-benar tahu bakatku menjadi anak bandal, sehingga berpesan seperti itu kepada Mas Igun.
            Sejujurnya, aku hanyalah mahasiswa biasa. Kuliah untuk mendapatkan gelar sarjana, berharap ijazah kuliah dapat membawaku pada pekerjaan yang ideal dengan gaji yang besar pula. Kupikir ini tak ada salahnya. Semua orang juga pasti begitu.
            Bagiku yang terpenting saat ini adalah mempertahankan prestasi akademikku di tengah kesibukanku. Orang-orang sering menyebutku sebagai aktivis kampus. Aku sendiri tak mengerti standar apa yang dipakai orang-orang dalam menjuluki seseorang sebagai aktivis. Sedangkan bagiku sendiri, semua kegiatanku ini hanya pengalihan pikiranku dari hal-hal yang menurutku tidak berguna.
Aku benci ke mal, aku tak suka nongkrong di kafe-kafe mewah. Apakah aku anti hedonisme? Aku pikir tidak. Aku hanya tidak punya uang untuk kegiatan-kegiatan seperti itu. Itulah sebabnya aku mencari kegiatan untuk memanfaatkan waktuku. Dan bagi mereka yang bisa menggunakan uang mereka untuk kesenangan, sejujurnya aku iri. Aku juga ingin sesekali merasakan kehidupan seperti mereka. Tak perlu ‘sok’ memikirkan kehidupan sosial, tak perlu berlagak memiliki rasa nasionalisme tinggi, atau bahkan tak perlu menjadi pemuja tokoh-tokoh aliran sosialis yang fanatik.
Entah untuk berapa lama aku termenung di atas kasur lusuh yang telah menjadi tempatku tidur sejak aku dilahirkan. Kasur kapuk yang biasanya akan diisi ulang oleh ayah jika sudah semakin tipis. Tentunya ketika ia masih di sini bersama kami. Sebelum ia menghilang di tengah malam saat segerombol orang memukulinya di rumah kami dan menculiknya tanpa menghiraukan keberadaanku dan Mas Igun yang menangis histeris dan Ibuku yang terisak sambil memeluk kami. Hingga kini, tak satupun yang tahu keberadaan ayah.

***
Ratusan mahasiswa gabungan dari beberapa universitas di kota ini berkumpul di depan gedung DPRD. Tempat favorit untuk berdemonstrasi. Tentunya aku turut di dalamnya. Untuk apa? Biarlah cukup aku yang tahu. Sebelum ke tempat ini, aku menyempatkan diri mengirimkan sebuah artikel ke sebuah Koran lokal yang malam tadi sempat membuat Mas Igun marah padaku.
Suasana di sini begitu riuh. Para provokator yang entah dari mana datangnya memperkeruh suasana. Prediksiku, aksi kali ini pun akan berakhir ricuh. Tapi aku tak berusaha melarikan diri dari kerumunan ini. Berharap ada perwakilan DPRD yang akan rela menemui kami. Harapanku berbuah.beberapa perwakilan massa diminta masuk untuk bernegosiasi. Tuntutan kami hari itu adalah menolak kenaikan harga bahan bakar minyak.
Aku dan beberapa teman diperkenankan masuk untuk menemui ketua DPRD. Beberapa tuntutan kami ditandatangani. Aku juga sebenarnya tak yakin, apakah ada pengaruhnya tanda tangan dari pejabat politik ini.tapi ini bagian dari usaha kami agar tidak menambah berat beban rakyat. Aku melakukan ini karena tak dapat kupungkiri, pajak dari rakyatlah yang mensubsidi biaya pendidikanku di universitas negeri.
Keadaan di luar semakin beringas. Aku tak tahu pasti apa yang terjadi. Yang aku tahu, sebuah surat yang telah ditandatangani tak jadi dikirimkan ke Istana Negara melalui faks Karena kegaduhan itu mengusik niatan DPRD. “Mengapa kalian masih saja anarkis? Padahal Kami sudah menyediakan ruang untuk kita bernegosiasi?” Ketus ketua DPRD marah. Aku dan teman-teman berusaha menjelaskan pasti ada provokator yang menyusup di tengah massa aksi. Tapi dia enggan mendengar dan meninggalkan kami begitu saja.
Kami berjalan gontai ke luar gedung. Suasana di luar begitu kacau. Batu bertebaran di mana-mana. Beberapa mahasiswa dihajar membabi buta oleh aparat. Beberapa telah berada di mobil pengamanan. Tak satu pun dari kami yang menjadi perwakilan mereka utuk bernegosiasi terpancing emosi untuk membantu mereka melempari polisi.

***
            Ponselku berdering. Nama Mas Igun tertera di layar. Sekarang sudah jam 11 malam. Meski enggan, kupaksakan jariku untuk mnerima teleponnya.
            “Kamu di mana?”  Aku belum sempat bilang ‘halo’, Mas Igun langsung mencecarkau dengan pertanyaaan.
            “ Sudah jam berapa ini? Mau pulang jam berapa?”
            “Aku di kantor polisi…”
            “Apa? Sedang apa Kau di sana? Masalah apalagi yang Kau buat?”
            “Dengarkan dulu penjelasanku, Mas. Aku tidak..”
            “Sudahlah. Kau selesaikan saja dulu urusanmu di sana. Nanti baru kita bicarakan.”
            Mas Igun menutup telepon begitu saja. Aku kembali menemui seorang polisi yang tadi menginterogasiku. Kembali aku bernegosiasi dengannya agar mau melepaskan teman-temanku. Akhirnya dia setujui beberapa temanku dilepaskan. Namun yang mereka anggap sebagai provokator tidak dilepaskan.
            Sudah jam 2 dini hari. Aku tahu jika aku paksakan pulang pasti tidak ada lagi angkutan yang beroperasi.  Namun untuk menginap di tempat ini, mana mungkin bisa. Aku bukan tahanan mereka. Seoang tmenam menawariku tumpangan dengan sepeda motornya. Artinya kami harus berbonceng tiga. Tapi tak apalah. Yang penting aku bisa pulang. Persis ketika aku ingin menaiki sepeda motor, Mas Igun datang dengan sepeda motornya. Tanpa kata-kata, kami melintasi pekatnya malam.

***
            Malam itu kami tak bicara satu sama lain. Begitu pun hari berikutnya. Biarlah begini, yang penting aku tahu Mas Igun menyayangiku. Dan sekarang, aku berada di tempat yang jauh dari Mas Igun. Dipisahkan oleh sebuah selat. Kepergianku kali ini untuk sebuah pelatihan menulis. Awalnya Mas Igun tak mengizinkanku, tapi aku berhasil merayunya. Apalagi tak sedikitpun uang pribadi kami terkuras untuk perjalananku ini.
            Dering tanda ada SMS masuk mengalihkan pandanganku dari pemandangan indah yang terhampar di depanku. SMS dari Mas Igun. Ah, sepertinya aku sudah tahu apa isinya.
            Benar dugaanku, Mas Igun mempertanyakan mengapa aku belum sampai di rumah. Tak lama, Mas Igun meneleponku. Aku katakana keberadaanku di kaki Gunung Bunder dan bersiap-siap untuk melakukan pendakian. Mas Igun marah.
            “Mas, aku tidak bohong. Setelah pelatihan menulis, aku diajak teman-temanku untuk mendaki,” ujarku sekenanya.
            “Tapi Kau hanya minta izin untuk pelatihan menulis, Zai. Bukan untuk mendaki. Atau jangan-jangan Kau menipuku?”
            “Mas, dengarkan Aku. Aku tidak bohong.”
            “Terserah Kau sajalah. Yang pentig Kau bisa menjaga diri.”
            “Aku jamin Aku akan baik-baik saja.”

***
            Berat sekali rasanya mataku terbuka pagi ini. Seperti ada perekat di anatara mataku. Aduh. Kenapa kepalaku begitu berat? Badanku terasa kaku semua. Dan aku bahkan belum berhasil membuka mataku. Sayup-sayup kudengar suara Mas Igun memanggil namaku. Sedang apa Mas Igun di kamarku? Apakah akan ada pelayanan sarapan di kamar dari Mas Igun? Ini sungguh luar biasa. Sekali lagi kudengar suara Mas Igun memanggil namaku.
            Seulas senyum Mas Igun memenuhi penglihatanku begitu aku membuka mata. Tapi tak ada bau roti dan susu coklat di sini. Dan… Hei.. ini bukan pagi hari. Ini adalah petang. Dari balik tirai aku bisa melihat langit jingga kemerahan. Dan, tunggu. Aku tidak sedang berada di kamarku. Di mana Aku?
            “Akhirnya bangun juga,” seru Mas Igun. “Bagaimana petualanganmu kali ini? Pasti sangat mendebarkan ya?” Mas Igun masih saja tersenyum. Padahal aku mengira dia akan marah padaku. Aku hanya diam saja. Masih tak biasa dengan suasana di sini. Perasaan pegal yang sangat menyergapku begitu saja.
            “Untung Kau hanya patah kaki kiri saja. Hanya trauma pascakecelakaan yang membuatmu tertidur selama tiga hari ini,” Ucapan Mas Igun semakin tak kumengerti. Mas Igun mencium keningku lembut. Kini aku menyadari di mana aku. Ya, aku terbaring di sebuah ruangan serbaputih. Aku yakin aku ada di rumah sakit. Kulihat kaki kiriki digips.
            “Kamu udah bangun?” Batara masuk ke ruangan. Batara adalah temanku. Kami bertemu ketika aku mengikuti pelatihan tanggap bencana di Parung tiga tahun lalu. Dia yang mengajakku mendaki hari itu.
            Aku ingat sekarang. Aku terjatuh di tebing setinggi 10 meter. Ya, saat hendak menuruninya, Randy terpeleset karena licin. Aku tepat berada di bawahnya. Aku sempat bergantungan di akar pepohonan entah untuk berapa lama. Dan setelah itu kurasakan tubuhku terhempas dan semuanya mendadak gelap.
            Aku memaksakan diriku tersenyum pada Mas Igun. “Maaf,” uacapku tulus. Hanya itu rasanya kata yang sanggup kuucapkan. Mas Igun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Kulihat dia mencibir ke arahku.
            “Katanya pasti baik-baik saja,” Mas Igun meledekku.
            “Buktinya aku hanya sedikit patah kaki,” balasku.
            Mas Igun hanya tertawa ringan. Aku tahu, Mas Igun hanya tak ingin membuatku merasa bersalah. Tapi sikapnya yang lembut hari itu semakin membuatku merasa bersalah. Tidak sedikit ongkos yang harus dikeluarkannya untuk ke kota ini. Dan aku tahu Mas Igun harus mengorbankan tabungannya untuk berumah tangga hanya untuk dapat menjengukku. Belum lagi biaya perawatanku. Walaupun aku punya asuransi, tapi kurasa tidak cukup banyak untuk perawatan ini.
            “Makasih, ya, Batara. Pasti Kamu yang bawa Aku ke sini.”
            “Iya, sama-sama. Randy juga minta maaf sama Kamu. Dia kemarin ke sini. Maaf juga karena udah ngajak Kamu mendaki.”
            Aku hanya tersenyum. Rasa lelah masih saja melekat di sekujur tubuhku. Mungkin aku harus kembali tidur.

***
Kondisiku sudah membaik. Mungkin dalam tiga hari ini aku akan kembali ke kota asalku, bersama Mas Igun tentunya. Tak bosan kutatap wajah Mas Igun yang sedang merapikan barang-barangku. Mas Igun selalu menemaniku selama di rumah sakit. Mau ke mana lagi dia? Kami tak punya keluarga di Kota ini.
“Kenapa, Zai? Kok ngeliatin Mas kayak gitu?”
Aku menggeleng. “Kayaknya aku udah punya jawaban pertanyaan Mas yang dulu, deh.”
“Pertanyaan yang mana?”
“Untuk apa Zaila melakukan semua ini.”
“Masih dipikirin aja. Mas aja udah lupa pernah nanyain itu,” kata Mas Igun tersenyum. Senyum seorang kakak yang telah lama tak kulihat menghiasi wajahnya. “Terus, jawabannya apa?”
Aku menarik napas panjang. Dengan perlahan kemudian kujawab, “Aku berdemo untuk menyuarakan suara yang tak terdengar. Aku menjadi seorang pecinta alam agar merasa lebih dekat dengan Tuhan dan menghargai hidup. Aku menulis, agar karyaku tetap hidup meski aku telah mati.”

Comments

Popular Posts