pemikiran aneh

Lagi. Kembali aku dengar kabar duka seorang teman. Sebab kematiannya sama. Leukimia. Kanker darah yang satu ini sepertinya memang lagi tren. Tadinya kupikir hanya dalam cerita fiksi aku bisa temukan penyakit ini. Banyak cerita tentang penderita penyakit ini.

Saat temanku yang satu meninggal lebih dulu, aku baru tersadar. Leukimia tak hanya dalam fiksi. Aku turut berduka bersama orang-orang lain yang merasa kehilangan. Saat dia masih dalam kondisi koma, do'aku terus mengalir untuknya. Kami tak bisa dibilang akrab, tapi cukup saling mengenal. Dia baik. Dia supel. Aku suka kenal dia. Dia tak seperti orang sakit. Begitu pintar mengalihkan rasa sakit dengan aktif dalam berbagai kegiatan dan komunitas. Terutama fotografi.

Ketika dia ambruk di Malaysia, semua terkaget. tidak menyangka tubuh sesubur itu telah lama digerogoti penyakit. Saat koma pun dia masih terlihat bersemangat. seorang teman cerita ketika menjenguknya di rumah sakit, temanku itu menunjukkan reaksi kuat ingin segera bangun. Tak ingin kalah pada penyakit.

Baiklah, tentang temanku yang satunya lagi. Aku hanya mengenalnya. Jarang bertemu, apalagi berbincang. Tapi dari beberapa kali aku berbicara dengannya, aku tahu dia juga orang baik. Sangat baik. Bisa dibilang pintar, juga aktif dalam kegiatan kampus. Sekali lagi, tak seperti orang sakit. Tak ada aku tahu cerita sesaat sebelum kematiannya.

Jika kupikirkan lagi, lucu sekali ketika aku tak acuh saat berita kematiannya menyebar di seantero kampus. Bahkan ada teman yang tak percaya aku tak tahu. "Masa kau tak tau siapa dia?" Begitulah salah satu contoh pertanyaan yang terlontar. Dia sebut sebuah nama, aku menggeleng.

Sial, aku memang tak tahu nama lengkapnya. teman-temanku membicarakan nama depannya. Sementara aku hanya tahu nama tengahnya. Nah, dua minggu setelah kematiannya, aku iseng memperhatikan info-info yang ditempel di mading masing-masing jurusan. Mataku tertunjuk pada sebuah berita duka. Ada foto yang terpampang di sana. Dengan seksama aku perhatikan, sepertinya aku kenal wajah itu.

Lantas aku konfirmasi nama tu pada seorang teman. "Iya, kakak itu yang kemaren meninggal," katanya. Di saat semua orang hampir lupa dengan berita kepergiannya, saat itu aku baru kaget. Lucu sekali bukan? bercampur malu malah.

Dari kedua orang ini, keduanya orang baik. Entah kenapa pikiran liarku mulai bermain. Apakah seitap orang yang mengira dia akan mati dalam waktu dekat, akan selalu berbuat baik? Atau mungkin harus diancam dengan penyakit parah dulu baru seseorang bisa berbuat baik?

Kupikir, tak ada ruginya terserang penyakit parah. Hitung-hitung, ada unsur penekan untuk berbuat baik. Hahahahaha,aneh sekali kurasa pikiranku ini. Meski begitu pemikiranku, tak pernah aku ingin terserang penyakit.

Setelah kurenungkan, mengapa tidak kita menikmati sisa hidup kita, seolah besok kita mati. mengapa tidak, kita manfaatkan hidup kita untuk berbuat baik, seolah tak lagi ada kesempatan untuk kita berbuat baik. Normatif? Ya, begitulah.

Hidup memang tentang berjuta rahasia. Sesuatu yang unik, tak akan pernah sama bagi setiap orang, tak pernah dapat digeneralisasikan. Hidup hanya hidup. Hidup adalah hidup. Kurasa tulisan ini semakin tak terarah. Nikmati saja hidup dengan positif

Comments

Popular Posts