Cinta (Tak) Harus Memilih

“Bukankah kita sudah sepakat? Kenapa sekarang tiba-tiba kamu ragu?”
            “Mas, saat itu kupikir semua mudah. Makin ke sini, aku merasa bersalah dengan semua ini.”
            “Tapi Dhit, Aku sudah nyaman dengan kita,…”
            “Tapi Aku enggak, Mas!”
            “Dhit?”
            “Maaf, Mas.”
            Aku meninggalkan Gara di restoran itu. Padahal dia sengaja jauh-jauh datang ke kotaku. Rencananya untuk melepas rindu. Sudah tiga bulan kami tak bersua. Aku pun memendam rindu yang teramat padanya. Hanya saja, dalam rentang waktu itu aku mulai berpikir ke arah mana hubungan ini akan berlabuh. Hubungan yang memberi warna berbeda pada kami berdua. Hubungan yang sangat manis.
            Aku tahu dia terluka saat aku tinggal. Begitupun Aku. Kesedihan itu kulampiaskan pada pedal gas mobil. Mobil merahku melaju gesit di jalanan kota ini. Hujan di luar tinggal rintik. Dinginnya bercampur dengan pendingin di mobilku. Berulang kali telepon selulerku berdering. Dari dia, Gara. Kuabaikan saja. Aku takut tak akan kuat bertahan dengan keputusan ini. Aku takut tak mampu berhenti di sini. Aku takut terlarut dalam indah berdekapan dengannya.
            Aku bertemu Gara dalam sebuah pertemuan bisnis di Jakarta dua tahun lalu. Di tengah pertemuan, mata kami saling menaut. Sesungging senyum terbentuk begitu saja di wajah kami. Aku langsung merasakan ada yang beda.
Saat istirahat, dia menghampiriku. “Halo, Saya Setya Nugraha,” katanya seraya mengulurkan tangan ingin bersalaman denganku. “Panggil saja Saya…”
“Gara!” Kataku spontan. “Aku Radhita Ardhana,” kataku menyambut tangannya. Kami berjabat tangan erat.
“Oke! Radhit,” katanya tersenyum lebar. Kami lantas tertawa. Karena aku seenaknya saja membuat nama panggilannya, diapun begitu. Sedianya nama panggilannya Setya dan Aku biasa dipanggil Dhana. kemudian dia mengajakku makan bersama.
Ada magnet padanya. Ada sesuatu yang kudamba dari lelaki padanya, tapi aku tak tahu apa. Perangainya sopan dan terkesan gentle saat berhadapan dengan perempuan. Sejak pertemuan itu, aku terus memendam rindu padanya. Bahkan saat kami masih duduk bersisian.
            Gara berparas tampan. Hidungnya tidak begitu besar dengan mata bersorot tajam berwarna cokelat tua. Rambutnya pendek lurus, hitam legam. Tingginya kira-kira 185 cm dengan berat 90 kg. Secara fisik, dia memang tipeku, persis. Tapi bukan itu faktor utama aku menyukainya. Perangainya. Perangainya yang sangat pandai memperlakukan perempuan. Sopan, santun dalam berkata, tenang saat berbicara. Kata-kata meluncur runut dari mulutnya.
Dia baik pada setiap orang. Wajar jika kemudian banyak perempuan yang salah paham pada sikapnya. Tapi aku memahami gerak-geriknya untuk orang yang dianggapnya spesial. Termasuk padaku. Sejak mata kami pertama kali bertaut, semua rasa itu tumbuh. Mulanya kupikir aku yang berlebihan menilai dia menyukaiku. Tapi semua sikapnya padaku menjawab semua ragu. Aku yakin, kami yakin kami saling memendam rasa.
            Kubenamkan perasaanku bersama rasa kantuk yang teramat. Kuharap saat aku bangun besok, semua akan baik-baik saja. Ponselku terus bergetar di meja kerjaku, telepon dari Gara. Kubiarkan saja, tak ada keinginan untuk menjawabnya. Mungkin saat ini perasaannya hancur, tapi mungkin aku lebih hancur.
            Dua tahun ini, sejak awal bertemu Gara, aku sudah jatuh cinta padanya. Dua tahun ini pula aku terus mendamba kami akan berdampingan selamanya. Hal yang sejak mula kami menjalin hubungan aku sudah tahu pasti akan sulit. Tapi tetap kujalani cinta dengannya. Meski aku tahu tak mungkin bisa memilikinya utuh.
            Dalam sebuah perjalanan ketika dia datang ke Medan, kotaku, aku kemudian tahu segalanya. Waktu itu kutemani dia berwisata ke Danau Toba. Kami sedang asyik memilih pernak-pernik untuk dijadikannya oleh-oleh. Kemudian dia memintaku memlilihkan kain tenunan yang bagus. Kupilihkan satu. Tenunan halus dengan motif khas Batak yang menawan.
            Dia tersenyum lebar waktu kutunjukkan kain itu padanya. Matanya berbinar memandang kagum pada kain tadi. Dan memandang sayang padaku. Tentu saja aku merasa bangga karena telah menemukan kain yang sesuai dengan seleranya.
            “Diandra pasti akan suka sekali kain ini,” katanya takjub.
            “Diandra?” Tanyaku bingung. Saat itu kami sudah berteman selama enam bulan. Tak sekalipun aku pernah dengar dia cerita tentang seseorang bernama Diandra. “Siapa dia, Mas?”
            “Istriku,” katanya masih dengan senyum yang mengembang.
            Deg. Entah bagaiman persaanku waktu itu. Khayalku yang selama ini kubangun runtuh begitu saja. Tak kusangka, Gara sudah menikah. Memang selama ini kami tak pernah cerita hingga ke hal paling intim dalam kehidupan pribadi kami. Bahkan kami baru tahu keyakinan masing-masing setelah delapan bulan berteman. Itupun karena hari raya Idul Fitri. Aku tak pernah mempermasalahkan status dalam pertemanan. Tak kusangka, hal itu pula yang membuatkau abai untuk tahu dia masih sendiri atau sudah berpasangan sebelum menghayalkan keindahan cinta bersamanya.
            Gara menolehkan pandangannya padaku. “Kamu pintar, deh, milihnya,” ujarnya. Sementara aku masih sibuk menguasai emosi dan pikiranku hingga tak merespon perkataannya.
            Rupanya Gara menangkap kerisauan dalam benakku. Terang saja, saat dia memanggil-manggil namaku aku tak menyahut. Gara menundukkan badannya untuk melihat wajahku, keningku berkerut. Dia menangkap ada yang tidak beres padaku.
            “Ada apa, Dhit? Ada yang salah?” Tanyanya prihatin. Dan aku masih sibuk dengan perasaanku sendiri. Tapi aku kali ini cukup sadar untuk menoleh padanya dan menggelengkan kepala.
            “Enggak. Enggak ada apa-apa, kok, Mas,” kataku, kemudian memaksakan senyum padanya.
            “Kamu yakin semuanya baik-baik saja?” selidik Gara. Aku mengangguk. Gara tak bertanya lagi. Kami meneruskan kegiatan belanja kami.
***
            Seminggu ini aku dan Gara tak lagi berhubungan. Dua hari setelah peristiwa itu Gara masih terus saja mencoba menghubungiku, tapi tak kuhiraukan. Kekanakan memang, tapi aku tak sanggup meneruskan hubungan kami.
            Siang ini aku makan siang bersama Haga, sahabatku sejak kuliah. Aku ceritakan apa yang terjadi pada kami. Haga sangat pengertian, dia tenangkan perasaanku. Andai saja dulu aku dengarkan nasihat Haga. Sejak awal Haga sudah memintaku untuk memastikan status Gara. Haga tahu aku sulit untuk jatuh cinta dan dia tak pernah melihat aku memendam perasaan begitu besar pada lelaki manapun. Dia hanya tak ingin aku terluka. Namun semua sudah terjadi. Haga benar.
            “Jadi Kamu putuskan mundur?”
            Aku mengangguk.
            Raut wajah Haga begitu senang. Digenggamnya kedua tanganku. Diangkatnya daguku dengan jarinya agar bisa menatapku lurus. Pandangan matanya begitu sayang padaku. Kedua mataku mengeluarkan air mata. Setelah seminggu, baru kali ini aku bisa melampiaskan perasanku. Baru hari ini aku bisa menangis, di hadapan Haga. Diusapnya air mata dipipiku.
            “Aku tahu kamu hancur,” Kata Haga dengan suara lembut, “tapi aku senang Kamu putuskan mundur.”
            Kemudian ponselku berdering. Aku tak tahu dari siapa, aku angkat saja. Ternyata Diandra. Suaranya terdengar sangat sedih.
            “Dhit, sejak pulang dari Medan, Mas Setya berubah. Jadi murung terus. Ada kejadian apa di sana Dhit?”
            Aku diam sejenak untuk memberi jawaban pada Diandra. Bingung sekali rasanya harus menjawab apa. “Enggak ada apa-apa, Mbak. Memangnya Mas Gara cerita apa ke Mbak?”
            “Itu dia masalahnya, dia enggak cerita apapun soal Medan. Kalian enggak berantem, kan, Dhit?”
            “Mbak kok bisa berpikiran gitu?”
            “Soalnya jarang sekali Mas Setya murung. Dia kehilangan semangat gitu, Dhit, kayak kehilangan sesuatu yang sangat berharga gitu,” Diandra sepertinya akan menangis. Suaranya bergetar.
            Ah, apa yang harus aku katakan pada Diandra. Dia memang sudah tahu hubunganku dan Gara. Waktu itu, enam bulan setelah kami berpacaran, setahun setelah kami mengenal, aku ke Jakarta. Aku dan Gara membuat janji makan malam di sebuah restoran. Gara membawa serta Diandra bersamanya. Kami pun berkenalan. Waktu itu Gara memperkenalkanku sebagai temannya dari Medan. Diandra perempuan baik dan lembut. Perempuan yang penuh cinta dan berhasil membuatku cemburu karena dia melayani Gara dengan sangat baik di meja makan.
            Empat bulan kemudian kami bertemu lagi. Saat itu, entah bagaimana caranya dia sudah tahu hubungan kami. Dia bilang terima kasih padaku karena telah mendengar segala keluhan Gara. Terima kasih karena sudah menjadi teman diskusi Gara dan tempat Gara bersandar ketika dirinya beberapa kali tak mampu meredam Gara dalam dekapnya.
            Aku sendiri tak mengerti bagaimana dia bisa tak marah padaku ataupun Gara. Bagaimana dia begitu berbesar hati melihat suaminya berbagi hati yang sama dengan perempuan lain. Waktu itu aku terenyuh dengan sikap Diandra. Dia seperti telah merelakan Gara sepenuhnya untukku. Gara pun santai saja dengan percakapan kami waktu itu. Sempat terpikir olehku mereka sedang mempermainkanku.
Gara tak berucap sepatah pun. Aku tahu dia menagkap keraguan padaku dengan keadaan saat itu. Dia hanya tertawa dan mengelus kepalaku. Gara memang suka mengelus kepalaku, atau mengacak rambutku.
“Kenapa diam saja, Dhit?” Suara Diandra membuyarkan lamunanku. “Kita bisa ketemuan enggak, buat bahas ini?”
“Mmm, gimana ya Mbak. Aku sedang banyak kerjaan. Belum tahu kapan ada waktu kosong buat ketemu,” jawabku.
“Atau Aku aja yang datang ke Medan, Dhit?”
“Enggak usah, Mbak. Biar Aku aja yang ke sana. Nanti Aku lihat lagi jadwalku.”
“Oke, nanti kabari aja, ya, Dhit.”
Aku tertegun. Tuhan, aku harus bagaimana? Apa yang harus aku jelaskan pada Diandra nanti? Kalau aku ke sana, artinya harus bertemu lagi dengan Gara. Apakah aku sudah siap? Demi apapun aku sangat mencintai Gara. Tapi sulit bagiku terus dalam hubungan ini. Meminta Gara bercerai dengan Diandra pun rasanya tak adil. Biar bagaimanapun Diandra lebih berhak memiliki Gara utuh. Tapi keputusan melepas Gara pun membuatku hancur.
“Telepon dari siapa, Dhan?” Tanya Haga.
“Diandra, istri Gara. Dia minta bertemu denganku. Katanya Gara berubah sejak kejadian waktu itu. Gara tak lagi ceria.”
“Terus?”
“Mungkin minggu depan aku ke Jakarta. Kamu temenin ya? Tapi nanti ketemu sama Diandra biar aku sendiri, Kamu di hotel aja,” Pintaku pada Haga. Aku tahu pasti nanti akan lebih sakit rasanya. Pasti aku akan sangat membutuhkan Haga untukku bersandar.
***
Kami bertemu di kawasan Kuningan, Jakarta. Tak jauh dari hotel tempatku dan Haga menginap. Diandra berbalut dres hijau gading dengan kalung menjuntai hingga dadanya. Sangat manis. Kami duduk berhadapan sekitar lima belas menit dengan saling berdiam. Hanya tadi saat menyapa kami bersuara. Setelah itu bergelut dengan pikiran masing-masing.
“Tadi kata Mas Setya mau nyusul ke sini,” Kata Diandra memecah keheningan.
“Dia pasti datang kalau begitu,” kataku datar. Gara akan selalu menepati perkataannya. Tapi kupikir, mengapa pula Diandra harus mengajak Gara dalam pertemuan ini? Bukankah sedianya kami hanya bicara berdua?
“Jadi sebenarnya ada apa, Dhit?” Tanya Diandra kemudian.
Aku menyeruput cappuccino di depanku. “Tiga bulan sebelum Mas Gara ke Medan, Kami bertemu di Bandung. Mas Gara menyatakan sangat cinta padaku. Aku tahu bahkan jika dia tak bilang sekalipun,” paparku dengan rinci kronologis hingga kejadian malam itu bisa terjadi. “Aku pun sangat cinta padanya. Aku yakin dia pun tahu. Lalu kutanya, setelah ini bagaimana? Kira-kira apa yang akan terjadi pada kita?”
“Lalu Mas Gara bilang begini pun sudah nyaman. Saat itu sebenarnya Aku ingin jawaban yang lebih. Tapi kemudian aku sadar kondisi Kami berbeda. Bukan Aku tak nyaman dengan hubungan kita, Aku pun menikmatinya. Tapi sebagai perempuan, Aku pun ingin merasakan menjadi pasangan yang sah secara hukum, Mbak.” Tutupku  sambil menggenggam tangan Diandra. Tadi saat kujelaskan kami saling mencintai, raut wajah Diandra berubah.
“Lantas apa yang terjadi saat di Medan?” Tanya Diandra penuh selidik.
Gara menghampiri meja kami. Diandra segera berdiri menyambutnya. Gara mencium pipi Diandra, mesra. Demi apapun aku cemburu setengah mati melihatnya. Kemudian dia berlaih memandangku. Dielusnya kepalaku, kemudian menunduk mencium keningku. Sekilas kutangkap cemburu di mata Diandra, tapi segera hilang.
“Sudah lama?” Tanya Gara tanpa kikuk. Kurasa dia sudah benar-benar mempersiapkan diri untuk ini.
“Lumayanlah,” sahut Diandra. “Terus, Dhit?”
Aku menarik napas panjang. “Selama tiga bulan Aku mengalami pergulatan batin tentang hubungan ini. Sebagian hatiku harus merelakannya, tapi sebagian besar lagi menginginkannya utuh untukku. Dan ketika aku sadari ada hati lain yang harus kujaga, maka aku putuskan untuk berhenti di sini.”
“Maksdumu?”
“Aku menyerah, Mbak. Mas Gara seutuhnya milik Mbak Diandra,” Aku tersenyum, getir. Dan tak menoleh sedikitpun pada Gara. Tapi aku bisa merasakan tatapan Gara tajam padaku. Aku bisa menangkap ketenangan yang dibangunnya runtuh bersama kata-kataku barusan.
Waktu seakan berhenti di antara kami bertiga. Gara bersandar di kursinya. Tangannya menempel di mulut hingga dagu. Keningnya berkerut. Aku duduk menunduk dengan pikiran berkecamuk. Diandra diam tak mampu berkata. Orang-orang mungkin tak tahu apa yang terjadi dengan kami. Tapi ini sungguh pergulatan batin yang menyiksa. Melepaskan orang yang selama ini kau impikan, yang sangat kau cintai. Hari ini aku tak akan membiarkan Gara memilih, karena aku memilih untuk tak menjadi pilihannya.
“Kita masih bisa meneruskan ini,” kata Gara pelan, lebih seperti bergumam pada diri sendiri.
Aku masih mematung di tempatku. Diandra memandangi wajah Gara yang duduk di sampingnya. Aku menatap lekat pada matanya. Tak percaya kata-kata itu keluar dari mulutnya. Apakah dia tidak memikirkan perasaan Diandra saat itu? Atau Gara sudah terjebak dalam cinta buta padaku?
“Aku enggak tahu harus bagaimana kalau semua harus berakhir begini, dengan cara seperti ini,” suara Gara bergetar olehkesedihan, “Diandra, apa Kamu keberatan?” Gara menghadapkan wajahnya ke wajah Diandra. Kulihat air menggenang di pelupuk Diandra. Tapi tak sempat jatuh.
“Apapun yang mebuatmu bahagia, Mas,” Ucapan Diandra terdengar rapuh. Wajahnya tersenyum, tapi aku tahu hatinya tak begitu.
“Gimana, Dhit?” Gara beralih memandangku. “Aku dan Diandra siap untuk ini, Aku mencintaimu, tulus. Aku tahu Kamu pun begitu padaku, dan Diandra mengetahui semua tentang Kita.”
Gara meraih jemariku, menggenggamnya erat. Aku pejamkan mata, air mata tak kuasa kubendung lagi. Apa ini? Dia melamarku di depan istrinya sendiri. Diandra sepertinya pasrah saja. Memang dia pernah beberapa kali menyatakan tidak keberatan jika Gara kemudian menikahiku. Kata Diandra waktu itu, cara Gara mlihatku sama ketika Gara melihat Diandra. Tatapan penuh kasih, perasaan selalu ingin melindungi dan cinta. Meski dikelilingi banyak perempuan, pandangan seperti itu hanya tertuju pada Diandra dan aku.
Kata Diandra waktu itu, hanya padaku dia bisa cemburu. Tapi entah mengapa dia pun rela Gara begitu. Katanya, jika Gara sudah mencintai, sekuat  tenaga akan dia pertahankan. Waktu itu aku senang mendengarnya. Tapi kini, mungkinkah aku masih senang? Diandra mungkin bisa berbagi, tapi aku perempuan egois. Aku hanya ingin menjadi satu-satunya.
“Bagaimana nanti Kamu membagi waktu untuk ada di Jakarta dan di Medan, Mas?” Kataku menatap matanya. Kubiarkan Gara melihat keruntuhanku. “Bagaimana jika kami membutuhkanmu di saat yang bersamaan?” Air mata mengalir deras, kubiarkan saja. Di seberangku, Diandra mencoba bertahan untuk tak menangis.
Mata Gara berkacaa-kaca. Diusapnya kedua pipiku dengan tangannya yang lembut. Dengan jarak sedekat ini, wangi tubuh Gara memenuhi pikiranku. Wangi yang sebentar lagi mungkin tak akan lagi aku rasakan.
“Kita akan tinggal bersama di Jakarta,” Kata Gara  setelah cukup lama hening menguasai kami.
Aku menggeleng keras. Aku tak ingin tinggal di Jakarta. Bukan hanya karena karirku yang sudah baik di Medan. Kalaupun harus pindah, aku tak mau tinggal di Jakarta. Kota ini sudah terlalu sumpek. Gara tetap pada keyakinannya pada hubungan ini. Seandainya saja keadaannya tidak begini, pasti aku sekarang menjadi perempuan yang sangat bahagia. Kekasihku mempertahankanku sekuat tenaga. Ya, seandainya saja. Tapi ada hati lain yang harus dijaga.
“Sudahlah, Mas. Tolong relakan aku. Mbak Diandra pasti lebih mampu mebahagiakanmu, Mas. Dia perempuan baik,” kataku melepaskan tangannya dari pipiku. Lalu menggenggamnya.
“Terus Kamu bagaimana? Siapa yang akan menjagamu? Siapa yang mampu mencintaimu sebesar cintaku, Dhit?” Suara Gara terdengar frustasi.
“Pasti akan ada, Mas. Pasti akan ada orang yang memilihku sebagai cintanya, Mas.”
Gara runtuh juga. Baru kali ini kulihat dia menangis. Diciumnya tanganku dalam genggamannya. Diandra mengelus pundak Gara, melingkarkan lengannya di leher Gara. Diciumnya kepala Gara. Kami bertiga hanyut dalam haru.  Kemudian Gara memelukku erat. Kubenamkan tangisku di dadanya. Kuhirup sepuasnya wangi tubuh Gara. Berulang kali Gara mengecup keningku. Dan itu menjadi pelukan terahir kami.



Comments

Popular Posts