Kuning-kuningen
Ku datas nipe ratah, ku teruh nipe gara, kai?
Bik Tengah, kakak bapak nomor dua, mulai melontarkan sebuah tebakan yang harus dijawab. Sebelumnya, Bapak bergumam, "anak sekarang kayaknya udah enggak pernah main kuning-kuningen."
Aku bingung. "Apa kuning-kuningen, Pak?"
Bapak tersenyum simpul, setengah mengejek.
"Tebak-tebakan," Kata Mamak kasihan dengan wajah bingungku.
Mendadak Bik Tengah melontarkan melontarkan pertanyaan tadi. seperti kasih contoh kuning-kuningen.
Aku, Yani, sepupuku, Monda, adik Yani, dan Loto, keponakanku, serentak melongo. Otak kami mencari-cari jawaban. Karena tak kunjung jawab, Bik Tengah menjawab, "Kalak man belo (orang makan sirih)." Bapak tertawa kecil. lalu menyambung memberi tebakan. "Kayu liligen, nipe kerina datas, kai?" Dalam bahasa Indonesia kurang lebih begini "pohon rimbun, di atasnya ular semua, apa?"
Kami bingung. "Parira!" seru nenk Iting, yang tadinya kami kira sudah tidur. Maklum saja, saat itu sudah pukul 00.30 WIB. Kami sontak tertawa. Bukan hanya karena jawabannya, tapi karena tak menyangka Nek Iting yang jawab. Usia Iting hampir 90 tahun, tak ada yang tahu pasti umurnya. Tapi daya ingatnya masih bagus. "Namanya yang ngajari kami main ini Iting," kata bapak.
Permainan ini sederhana saja, tapi punya magnet yang begitu kuat mengikat siapa saja yang terlibat. Senang rasanya jika kita bisa menjawab kuning-kuningen yang dilontarkan lawan. Pasti ada juga kesal jika tak mampu menjawab.
Kata Bapak, permainan ini selalu dilakukannya semasa kanak-kanak dulu di kampung. Kita tahu, dulu tak ada hiburan ajaib seperti yang kita kenal sekarang. Tak banyak sarana hiburan yang bisa diakses. Dan menurutku, kuning-kuningen lebih ajaib untuk mengeratkan kekeluargaan. Bisa dibilang, ia setara dengan dongeng dan legenda yang biasa dituturkan tetua kampung di balai desa. ada pelajaran-pelajaran dan nilai-nilai luhur yang diteruskan kepada generasi berikutnya. Bedanya, kuning-kuningen memaksa otak kita bergerak cepat untuk berpikir. Dan aku selalu suka permainan macam ini.
Kurasa aku sangat beruntung punya Bapak yang tak melepaskan budayanya. Begitu banyak kawan-kawan segenerasiku yang mungkin tak pernah tahu ada permainan macam ini. Yang kubayangkan adalah, kuning-kuningen menjadi salah satu penghangat yang menghibur di tengah dinginnya udara Tanah Karo di malam hari. Seperti yang kami rasakan malam itu, tak peduli malam begitu larut, tawa kami masih saja pecah.
Karena Aku dan para sepupu memang tak pernah bermain ini, jadilah Bapak dan Bibi yang selalu memberi tebakan. Kami hanya menjawab, dan tentunya butuh waktu cukup lama untuk menemukan jawaban yang dimaksud. di sudut ruangan, sesekali kulihat Nek Iting yang dengan kuat mengulum senyum. Ia menahan diri untuk tidak menjawab pertanyaan. Ia memberi ruang untuk kami berpikir sekuat tenaga. Dan tak jarang kami menyerah dan bertanya jawabannya ke Nek Iting.
di sela-sela lempar melempar tebakan, sesekali Bapak menjelaskan falsafahnya. Jika Kau tanya contohnya, maafkan aku yang mudah lupa. Tak ingat lagi aku itu.
Tulisan ini pun akhirnya kurampungkan setelah menggantung bertahun lamanya. Aku lupa tahun berapa malam itu terjadi. 2013? 2014? Yang pasti, kini Nek Iting tak lagi bersama kami.
Ini bukan tulisan tentang mengenang. Aku sedang tak ingin mengutip kenangan. Sejatinya tulisan ini menjadi informasi tentang sebuah budaya sederhana yang kami punya. Sebuah budaya yang bagiku lebih ajaib daripada apapun yang terdapat dalam ponsel pintarmu. Tapi bagaimana lagi, aku begitu terlena bertahun lamanya. Hingga hal sesederhana ini pun butuh waktu lama menuntaskannya.
Bik Tengah, kakak bapak nomor dua, mulai melontarkan sebuah tebakan yang harus dijawab. Sebelumnya, Bapak bergumam, "anak sekarang kayaknya udah enggak pernah main kuning-kuningen."
Aku bingung. "Apa kuning-kuningen, Pak?"
Bapak tersenyum simpul, setengah mengejek.
"Tebak-tebakan," Kata Mamak kasihan dengan wajah bingungku.
Mendadak Bik Tengah melontarkan melontarkan pertanyaan tadi. seperti kasih contoh kuning-kuningen.
Aku, Yani, sepupuku, Monda, adik Yani, dan Loto, keponakanku, serentak melongo. Otak kami mencari-cari jawaban. Karena tak kunjung jawab, Bik Tengah menjawab, "Kalak man belo (orang makan sirih)." Bapak tertawa kecil. lalu menyambung memberi tebakan. "Kayu liligen, nipe kerina datas, kai?" Dalam bahasa Indonesia kurang lebih begini "pohon rimbun, di atasnya ular semua, apa?"
Kami bingung. "Parira!" seru nenk Iting, yang tadinya kami kira sudah tidur. Maklum saja, saat itu sudah pukul 00.30 WIB. Kami sontak tertawa. Bukan hanya karena jawabannya, tapi karena tak menyangka Nek Iting yang jawab. Usia Iting hampir 90 tahun, tak ada yang tahu pasti umurnya. Tapi daya ingatnya masih bagus. "Namanya yang ngajari kami main ini Iting," kata bapak.
Permainan ini sederhana saja, tapi punya magnet yang begitu kuat mengikat siapa saja yang terlibat. Senang rasanya jika kita bisa menjawab kuning-kuningen yang dilontarkan lawan. Pasti ada juga kesal jika tak mampu menjawab.
Kata Bapak, permainan ini selalu dilakukannya semasa kanak-kanak dulu di kampung. Kita tahu, dulu tak ada hiburan ajaib seperti yang kita kenal sekarang. Tak banyak sarana hiburan yang bisa diakses. Dan menurutku, kuning-kuningen lebih ajaib untuk mengeratkan kekeluargaan. Bisa dibilang, ia setara dengan dongeng dan legenda yang biasa dituturkan tetua kampung di balai desa. ada pelajaran-pelajaran dan nilai-nilai luhur yang diteruskan kepada generasi berikutnya. Bedanya, kuning-kuningen memaksa otak kita bergerak cepat untuk berpikir. Dan aku selalu suka permainan macam ini.
Kurasa aku sangat beruntung punya Bapak yang tak melepaskan budayanya. Begitu banyak kawan-kawan segenerasiku yang mungkin tak pernah tahu ada permainan macam ini. Yang kubayangkan adalah, kuning-kuningen menjadi salah satu penghangat yang menghibur di tengah dinginnya udara Tanah Karo di malam hari. Seperti yang kami rasakan malam itu, tak peduli malam begitu larut, tawa kami masih saja pecah.
Karena Aku dan para sepupu memang tak pernah bermain ini, jadilah Bapak dan Bibi yang selalu memberi tebakan. Kami hanya menjawab, dan tentunya butuh waktu cukup lama untuk menemukan jawaban yang dimaksud. di sudut ruangan, sesekali kulihat Nek Iting yang dengan kuat mengulum senyum. Ia menahan diri untuk tidak menjawab pertanyaan. Ia memberi ruang untuk kami berpikir sekuat tenaga. Dan tak jarang kami menyerah dan bertanya jawabannya ke Nek Iting.
di sela-sela lempar melempar tebakan, sesekali Bapak menjelaskan falsafahnya. Jika Kau tanya contohnya, maafkan aku yang mudah lupa. Tak ingat lagi aku itu.
Tulisan ini pun akhirnya kurampungkan setelah menggantung bertahun lamanya. Aku lupa tahun berapa malam itu terjadi. 2013? 2014? Yang pasti, kini Nek Iting tak lagi bersama kami.
Ini bukan tulisan tentang mengenang. Aku sedang tak ingin mengutip kenangan. Sejatinya tulisan ini menjadi informasi tentang sebuah budaya sederhana yang kami punya. Sebuah budaya yang bagiku lebih ajaib daripada apapun yang terdapat dalam ponsel pintarmu. Tapi bagaimana lagi, aku begitu terlena bertahun lamanya. Hingga hal sesederhana ini pun butuh waktu lama menuntaskannya.
Comments
Post a Comment