Gila Drama
Ku rasa, tidak puas akan pencapaian diri bisa jadi menimpa siapapun. Aku merasakannya, bahkan sejak awal menggeluti pekerjaanku yang sekarang. Satu dan lain hal yang tak bisa kuceritakan, itinya aku masih berada di sini.
Keuntungan di sini adalah punya waktu luang yang cukup untuk menonton drama secara maraton. Sebenarnya sih tidak luang-luang amat. Tapi beberapa waktu lalu permasalahan yang menimpa kantor membuatku punya begitu banyak waktu luang untuk tidak melakukan apa-apa.
Aku yang sedang tidak menargetkan apapun dalam hidup, yang karena segala macam permasalahan yang datang silih berganti hingga memutuskan tak lagi bermimpi, yang hampir saja merasa rendah diri, tidak memanfaatkan waktu berbulan-bulan yang kosong itu dengan baik. Aku hanya membiasakan diri menonton drama korea. Ya, drama Korea, atau sesekali film-film tertentu yang direkomendasikan beberapa teman.
Siapapun yang mengenalku pasti tak akan menyangka drama Korea masuk dalam daftar yang harus ku tonton setiap harinya. Tapi begitulah. Itu terjadi. Buku-buku yang tadinya merupakan hal wajib untuk mengusir penatku, tak lagi punya arti. Drama korea begitu memikat.
Lalu aku jengah. Ku mulai merasa tak lagi begitu produktif karenanya. Ku merasa beberapa bagian akalku tumpul karena tak lagi diasah oleh bacaan dan tulisan. Tapi ku enggan ditinggalkan kenikmatan menonton drama yang sungguh bikin candu itu.
berbulan lalu sempat terpikir untuk meresensi setiap drama yang kutonton. Sekadar mengurangi rasa bersalah atas kebiasaan yang tak berfaedah ini. Menurutku, meresensi setidaknya membuat kegiatan menonton jadi berfaedah. halah.
ya, kira-kira begitulah. Tapi kemudian apa yang terjadi? Wacana tinggal wacana. Belum juga kumulai proyek yang kusebut "belajar konsistensi diri" itu. Mungkin ini langkah awal. Semoga ini tak lagi hanya tinggal wacana. Aku tak berharap banyak.
Comments
Post a Comment