Mengulik Sejarah Kota China

Pesisir pantai selalu menyimpan sejarah yang tertanam di bawah pasir atau mengendap di lapisan tanah. Laut, sejak dulu menjadi pengantar cerita peradaban manusia di bumi.




Entah untuk berapa abad, kapal laut jadi transportasi utama perdagangan antar-negara. Perdagangan internasional tak hanya membuat pertukaran barang terjadi, tapi juga budaya yang melekat pada penduduk lokal, atau yang dibawa oleh pendatang. Belakangan, siapa yang menjadi penduduk lokal atau siapa yang pendatang tak lagi jadi soal. Karena pada dasarnya penduduk-penduduk lokal pun bisa jadi berasal dari hasil migrasi orang-orang entah dari mana saja.


Di pesisir Kota Medan, di sebelah utara, pernah berdiri sebuah pelabuhan besar internasional yang tersohor. Pelabuhan itu diperkirakan jaya di abad 12 hingga abad 13. Kini tempat itu dikenal dengan sebutan Situs Kota China, berada di kawasan pesisir Medan Marelan. Berdiri sebuah museum di sana, tempat barang temuan di sekitar lokasi situs ini ditemukan.

Diceritakan, orang-orang pertama yang masuk ke daerah itu adalah orang dari India Tamil. Tapi pada waktu itu, kawasan tersebut merupakan bagian dari kerajaan Haru, Sebuah kerajaan Melayu-Karo yang besar dan disegani.

Jika melihat dari skema denah pelabuhan pada masa itu yang terlukis di dinding luar museum, saat pelabuhan tersebut berjaya, sudah ada perkampungan Tionghoa dan juga kompleks biara di sana. Artinya peradaban di tempat ini sudah dibangun jauh sebelum itu.

Laksamana Cheng Ho, seorang saudagar ternama asal Tiongkok tercatat pernah beberapa kali singgah di pelabuhan tersebut. gambarnya diabadikan dalam lukisan di dinding depan museum.


Berulang kali para peneliti dalam dan luar negeri menyambangi tempat ini. Potongan-potongan hasil temuan penelitian dirangkaikan menjadi sebuah cerita sejarah yang runut, namun tetap belum bisa dibilang utuh.



Terlepas dari sejarahnya yang masih belum sepenuhnya terkuak, Museum Situs Kota China ini sangat layak dikunjungi. Tempat ini memuat beragam barang temuan dari hasil eskavasi yang berlangsung sejak tahun 1980-an di sana. selain dari eskavasi yang dilakukan secara besar-besaran oleh peneliti sejarah, koleksi di sana juga didapatkan dari temuan warga yang tak sengaja ketika berenang di sekitar sungai, atau menggali untuk membangun fondasi rumah.

Tidak semua benda yang ditemukan warga disimpan di sana. Ada banyak juga yang dijual warga kepada kolektor dengan harga tinggi. Dilihat dari koin dan keramik yang ditemukan, benda-benda tersebut diperkirakan berasal dari Dinasti Song yang berjaya di Tiongkok pada masa itu.

Sebagai sebuah bandar besar internasional, barang-barang yang diperjualbelikan di sana merupakan komoditas berkualitas tinggi dari pedalaman sumatera. Sebut saja kemenyan sebagai bahan utama wewangian yang diminati, kapur barus, hingga rempah-rempah yang selalu jadi primadona.


Dari kalender sejarah, diketahui kebesaran pelabuhan ini berlangsung setelah masa kejayaan barus meredup. Pantai Barat Sumatera yang semula menjadi jalur mausuk utama perdagangan internasional, mulai ditinggalkan seiring dengan berkembangnya pelayaran di sekitar Selat Malaka.


Berkunjung ke Museum Kota China, membantu kita memahami tentang sejarah perdagangan di Selat Malaka. Selat Malaka dikenal sebagai lalu lintas pelayaran lintas negara yang padat. Letaknya sangat strategis sebagai pusat perdagangan Asia, terutama Asia Tenggara. Dengan lalu lintas perdagangan yang sibuk, kawasan Situs Kota China ini merupakan sebuah peradaban maju pada masanya.

Kemudian peradaban itu perlahan tenggelam bersamaan dengan berkembangnya peradaban lain lagi. Sisa-sisa peninggalannya terkubur di dalam pasir yang terbawa pasang dan surut air laut, menanti digali kembali oleh mereka yang tertawan hatinya pada sejarah peradaban manusia di Tanah Deli.












Comments

Popular Posts