S A G U

 

Ketika masi kanak-kanak, bagiku sagu sebatas jenis tepung yang sering diolah ibu menjadi kudapan ringan pelengkap sore. Ibu suka membuat kue-kue manis berbahan dasar sagu. Entah itu kue ongol-ongol atau lepat pisang berbungkus daun. Aku selalu lahap menghabiskan olahan sagu yang ibu suguhkan.

              

  Dulu, tidak pernah aku berpikir bahwa di belahan Indonesia yang lain, ada orang-orang yang menjadikan sagu menjadi bahan makanan pokok sehari-hari. Tak ubahnya beras bagi keluarga kami. Beberapa kali aku dengar cerita ibu tentang bagaimana tepung sagu dibuat, dari mana asalnya. Sering juga aku melihat proses pembuatan tepung ini dari televisi.

                Adalah Meroxylon Sagu Rottb, nama latin tanaman ini. tumbuhan yang tumbuh di daerah rawa-rawa ini menjadi penyambung hidup orang-orang yang tinggal di bagian timur Indonesia. Di Papua, di tempatku tinggal saat ini, kusaksikan langsung betapa berharganya pohon ini. Di setiap rumah akan sangat mudah kita temukan tepung sagu, jauh lebih mudah daripada menemukan beras. Bisa dibilang, beras jadi barang mewah di sini.

                Tepung sagu dihasilkan dari batang pohon sagu yang ditokok, atau dicacah halus. Pohon sagu dapat ditebang jika sudah mencapai usia dan ukuran tertentu. Tapi itu pun tak menjamin setiap batang sagu yang besar, mengandung sari pati yang banyak. Seringkali pohon sagu yang ditebang ternyata tak mengandung pati sagu yang dibutuhkan, meski berukuran besar sekalipun.

               

  Tokok sagu, istilah orang Papua untuk kegiatan menebang pohon sagu hingga menghasilkan pati atau tepung sagu. Kegiatan ini biasa dilakukan secara komunal dalam sebuah keluarga. Bisa jadi, tokok sagu dilakukan oleh dua atau lebih keluarga. Batang sagu yang sudah ditebang, ditokok bagian tengahnya untuk mendapatkan sari pati sagu. Cacahan inti batang sagu lalu diramas, atau diperas dengan tambahan air yang terus dialirkan ke pelepah sagu tempat sagu diremas. Endapan ini yang kemudian menjadi tepung sagu.

              
  
Di Papua, olahan tradisional sagu tidak begitu banyak jenisnya. Papeda dan sagu vorno atau sagu bakar menjadi olahan yang paling populer diantaranya.






Comments

Popular Posts