Pelajaran hari ini

Anak-anak itu tetaplah anak-anak biasa. Bermain dengan teman, main game di komputer, bercanda dan tertawa. sekilas tak ada yang aneh. Hanya saja mereka botak. Efek dari kemoterapi yang mereka jalani. Bibir mereka pun kering, pucat. Wajah tak bersemu, semua sewarna. Tapi jangan salah. Mereka tak kehilangan keceriaan.

Para orang tua mereka yang menemani tak terlihat ceria. bahkan saat kulihat seorang bapak memangku anak perempuannya, aku tertegun. Mereka memang tak menangis, tak pula menampakkan ekspresi sedih. Tapi entah kenapa hatiku menerjemahkan pikiran sang bapak. Begini kira-kira, "Berapa lama lagi aku masih bisa memeluk putriku?"

Aku, anak perempuan seorang bapak. Aku tahu bagaimana rasanya begitu dekat dengan bapak. Aku tahu, posisi anak perempuan di hadapan bapak. Aku mengerti, meski tak akan pernah bisa merasakan, bagaimana perasaan seorang bapak jika putri kecilnya terserang penyakit ganas. Jangankan sekelas kanker, flu ringan saja yang menyerang, bapak pasti tak akan henti berjaga. bolak-balik mengecek kondisi anaknya.

Ada lagi pasangan ibu dan bapak di sana. Di sebuah rumah singgah untuk anak-anak penderita kanker yang berasal dari luar Kota Medan. YOAM namanya. Ibu dan bapak itu anaknya masih berusia lima tahun. dari Kota Sidempuan. Amin nama anaknya. anak yang ceria, pintar, lasak dan menggemaskan. Perutnya membesar. Ada sel kanker yang menyerang ginjal kirinya. Kulitnya pun tak tampak segar. Tapi, dia tak bisa diam. Lari kesan, lari ke mari.

Ibu bapaknya begitu sabar. tak terlihat kesedian mendalam. Sesekali sang ibu mengeluarkan kegelisahannya akan kondisi sang anak. Tapi tetap berusaha tegar di depan anaknya.

Melihat anak-anak luar biasa itu, taidak bisa tidak aku berkaca pada diri sendiri. Seusia mereka, aku punya mimpi ketika kelak dewasa. Mereka pun pasti begitu. Entah mereka akan sampai pada usia dewasa atau tidak. Yang mereka tahu, hari ini mereka harus minum obat dan menjalani perawatan intensif. Berharap mendapat hidup yang lebih panjang jika terbebas dari belenggu kanker.

Begitulah hidup. Sesuka hati memilih siapa yang sehat, siapa yang sakit. Siapa yang berumur pendek, siapa yang berumur panjang. Kita hanya tahu, bagaimana menjalani hidup. Kita hanya tahu, harus bagaimana agar hidup bisa nikmat rasanya. dan kita tak tahu, kapan kenikmatan akan terenggut dari kehidupan.

Comments

Popular Posts