Rindu bersajak cinta

Lama sekali sepertinya tak menuliskan sajak-sajak romantis yang mendayu. Aku lupa kapan terakhir. SMA mungkin. Saat di mana aku rajin baca novel teenlit. Hahahaha,,,, mentang-mentang sekarang udah jadi anak kuliahan. Mahasiswa FISIP pula lagi. Aku merasa malu tatkala membuat sajak cinta. Dipikir-pikir, kekanakan sekali aku ya.

Sajak puisiku kini berisi pergolakan batin. Kemarahan akan kondisi sosial, masyarakat, budaya dan negara. Entah apa pentingnya. Mungkin hanya demi satu kata. Keren. atau 'sok' keren. Sama sajalah. Seperti yang tadi kubilang, kekanakan sekali menganggap puisi cinta tak keren. Atau aku yang terlalu terobsesi dengan sajak-sajak Chairil Anwar, Taufik Ismail, W.S. Rendra, Widji Tukul, Gie, yang kerap berisi kemarahan batin.

Tapi terkadang aku pikir, mungkin karena kondisi hati yang kosong dari cinta dalam artian kekasih. Dulu puisi cintaku berisi cinta terpendam, atau cinta tak harus memiliki. Sesuai keadaan masa itu. Saat aku masih seorang gadis lugu yang tak berani menyatakan perasaan, terutama cinta. Hingga kini pun masih begitu, hanya tidak dengan cinta. Karena sejak teakhir jatuh cinta, tak pernah lagi aku merasakan tekanan di dada yang bernama cinta. Terakhir memang saat SMA.

Mungkin aku yang terlanjur tak mau terjerumus. Lihat saja, sesuai dengan puisiku di masa lampau, tak pernah menggenggam cinta. Akhirnya, berusaha nyaman dengan kesendirian. Aku tumbuh menjadi orng yang bergerak dalam kesendirian. Asyik. Meski tak dapat kupungkiri, rindu untuk merasakan tekanan rasa cinta di dada. Atau iri melihat teman-teman yang datang dengan gandengan ke undungan-undangan pernikahan. Atau ingin sesekali dijemput pacar saat aku harus pulang larut malam.

Terlalu jauh sepertinya alsan aku tak lagi bersajak cinta. Tapi tenang, tak ada yang berubah. Dalam puisi kekinianku pun masih menggunakan kiasan kata yang tak kalah dengan kiasan cinta. Suatu saat, aku akan kembali mengukir sajak romansa cinta. Tak peduli soal kebahagiaan, atau penderitaan. Entah soal mempertahankan rasa, atau cinta tak harus meiliki. Yang pasti aku rindu mnuliskan kembali sajak cinta yang telah lama sengaja aku lupakan.

Dan soal gandengan, entah kenapa aku yakin saja. Pasti akan tiba masa di mana lelaki yang tepat akan menggenggam jemariku, menyandarkan kepalaku ke bahunya, atau sebaliknya, dan yang akan mengikat janji dalam pernikahan yang suci. Aku yakin.

Comments

Popular Posts