Gundah
Tahukah Kau bagaimana rasanya ingin menyapa namun kau merasa tak kuasa?
Pernahkah Kau merasa tak dapat berkutik bahkan hanya karena mengingat sebuah nama?
Tidak enak, begitulah rasanya. Kau ingin bertukar kabar tapi ragu jika nanti dia tak mengehendakinya. Kau ingin berbincang tapi takut itu akan mengganggunya nanti. Kau ingin menyentuhnya tapi khawatir nanti dia merasa risih. Semua serba salah rasanya. Padahal dalam hati keinginan itu begitu kuat. Dalam hati hasrat untuk menyapa begitu tinggi.
Kemudian yang ada hanya menelan semua rasa itu. Pahit. Kau tahu, pahit sekali rasanya. Kemudian sesak mengiringi tenggorokanmu. Ingin sekali marah tapi tak tahu mengapa harus marah. Ingin sekali rasanya menangis, tapi tak mengerti apa yang harus ditangisi. Ingin sekali berteriak sekuat tenaga, tapi untuk apa?
Selanjutnya membawanya dalam rangkulan malam, tidur. Tapi jika sudah begitu, tidur pun tak lagi lelap. Ada saja bayang-bayang dari dia yang seolah mengawasi. Yang paling menyedihkan ketika tidur sudah masuk dalam pintu menuju lelap, tapi kemudian terbangun karena wajahnya mendadak memenuhi seluruh kelopak mata.
Setelah itu apa? Rasa gundah yang seolah tak ada ujung. Mau begini terasa tak enak, mau begitu rasanya salah. Ingin mengerjakan sesuatu, tapi sepertinya tidak ada yang bisa dikerjakan. Tahukah Kau rasanya begitu? Pernahkah Kau merasakannya?
Aku? Tak perlu Kau tanya. Sering. Sering kali begitu, dan sialnya hanya untuk satu orang yang sama. Inginku tidak begitu, karena rasaku memang tak pantas begitu. Tapi kali ini hati dan pikiran tak menemui jalan tengah. Masing-masing mengedepankan ego sendiri-sendiri. Jadilah tubuh rasanya tak enak.
Dan Kau tahu kemudian apa yang kukerjakan? Menulis. Menulis semuanya. Gundahku, khayalanku akan dia. Seandainya begini apa kemudian yang akan terjadi. Kalau begitu, apa pula jadinya nanti? Kau tahu untuk apa kulakukan itu? Hanya agar Aku segera bosan memikirkannya, kemudian pelan-pelan namanya tidak lagi berpengaruh apapun padaku. Hingga akhirnya semua kembali normal, hidupku normal, kegiatanku pulih. Dan kuharap memang begitu. Normal.
Pernahkah Kau merasa tak dapat berkutik bahkan hanya karena mengingat sebuah nama?
Tidak enak, begitulah rasanya. Kau ingin bertukar kabar tapi ragu jika nanti dia tak mengehendakinya. Kau ingin berbincang tapi takut itu akan mengganggunya nanti. Kau ingin menyentuhnya tapi khawatir nanti dia merasa risih. Semua serba salah rasanya. Padahal dalam hati keinginan itu begitu kuat. Dalam hati hasrat untuk menyapa begitu tinggi.
Kemudian yang ada hanya menelan semua rasa itu. Pahit. Kau tahu, pahit sekali rasanya. Kemudian sesak mengiringi tenggorokanmu. Ingin sekali marah tapi tak tahu mengapa harus marah. Ingin sekali rasanya menangis, tapi tak mengerti apa yang harus ditangisi. Ingin sekali berteriak sekuat tenaga, tapi untuk apa?
Selanjutnya membawanya dalam rangkulan malam, tidur. Tapi jika sudah begitu, tidur pun tak lagi lelap. Ada saja bayang-bayang dari dia yang seolah mengawasi. Yang paling menyedihkan ketika tidur sudah masuk dalam pintu menuju lelap, tapi kemudian terbangun karena wajahnya mendadak memenuhi seluruh kelopak mata.
Setelah itu apa? Rasa gundah yang seolah tak ada ujung. Mau begini terasa tak enak, mau begitu rasanya salah. Ingin mengerjakan sesuatu, tapi sepertinya tidak ada yang bisa dikerjakan. Tahukah Kau rasanya begitu? Pernahkah Kau merasakannya?
Aku? Tak perlu Kau tanya. Sering. Sering kali begitu, dan sialnya hanya untuk satu orang yang sama. Inginku tidak begitu, karena rasaku memang tak pantas begitu. Tapi kali ini hati dan pikiran tak menemui jalan tengah. Masing-masing mengedepankan ego sendiri-sendiri. Jadilah tubuh rasanya tak enak.
Dan Kau tahu kemudian apa yang kukerjakan? Menulis. Menulis semuanya. Gundahku, khayalanku akan dia. Seandainya begini apa kemudian yang akan terjadi. Kalau begitu, apa pula jadinya nanti? Kau tahu untuk apa kulakukan itu? Hanya agar Aku segera bosan memikirkannya, kemudian pelan-pelan namanya tidak lagi berpengaruh apapun padaku. Hingga akhirnya semua kembali normal, hidupku normal, kegiatanku pulih. Dan kuharap memang begitu. Normal.
Comments
Post a Comment