Untukmu, teman yang kukenal lewat tulisan...

Untukmu, teman yang kukenal lewat tulisan...

Kita memang tak pernah saling kenal. Aku hanya tahu Kau dari tulisan yang kau buat di blog pribadimu. Aku yakin kau bahkan tak pernah tahu aku. Sebenarnya tak layak seenaknya kusebut kau teman. Bagaimana mungkin 'teman' bisa tersebut untuk orang yang bahkan tak saling tahu?

Membaca postinganmu, aku dengan mudah tahu kau siapa. Aku kagum pada kejujuranmu dalam setiap karya yang kau buat. Meski belakangan ini, jujur saja, aku bosan dengan tulisanmu. Bahkan aku tak lagi baca tulisanmu dengan teliti seperti dulu. Hanya untuk judul-judul yang menarik jariku dengan enteng mengklik postinganmu. Ah, aku pun tahu kau tak peduli itu. Bagaimana bisa peduli pada apa yang kita tak tahu?

Satu yang paling kuat kutangkap darimu, yang kurasa kita sama-sama miliki. Pendendam. Ya, dendam. Kau begitu larut dalam dendam yang mendalam, yang entah kau tujukan pada siapa. Nasib? Teman? Atau mungkin Tuhan?

Setiap kubaca tulisanmu, selalu ada sesuatu yang bergejolak di jiwaku. Entah bagaimana aku selalu merasa, seharusnya aku seberanimu. Aku senang dengan tulisanmu yang memadukan kepedihan bahkan dalam cerita cinta. Aku suka nilai-nilai yang kau tuangkan di sana.

Hanya saja, Kawan, kita punya cara yang berbeda menghadapi dendam. Aku telah menyatu dalam ajaran yang dibawa keluargaku sejak dulu. Entah bagaimana selalu saja pergulatan dalam diriku memaksaku untuk mengalah dan tak melulu mengutamakan dendam. Meski kemudian aku tahu, ada yang tak tuntas dengan diriku. Begitu banyak rasa haus yang tak terpuaskan. Dan semua rasa itu menumpuk membentuk aku yang lain. Aku pilih berdamai.

Kukira, jika kau baca tulisanku ini, pasti sekarang kau tertawa? Damai? Bagaimana bisa pendendam nomor wahid kenal kata damai? Jika memang begitu, maka kukatakan kau benar. Aku tak berdamai dengan sepenuhnya rasa damai. Pura-pura.

Dendamku, tak sekalipun kuarahkan pada apa yang kita sebut Tuhan. Aku rasa tak layak mendendam pada Dia yang menciptakan hidup, sekalipun bukan aku yang minta untuk hidup. Aku marah pada mereka yang kurasa meninggalkanku. Teman. Atau yang kukira sebagai teman, tapi kemudian pergi tanpa kata perpisahan. Tak ada pamit walau sedetik, atau sebuah pesan singkat, atau mention di twitter.

Kukira kami teman. Mungkin memang sepele perkara kata pamit. Tapi bagiku yang punya masa lalu pahit pada kata 'teman' itu sangat berarti. Jika hal sepele pun dia yang bernama teman tak mau cerita padamu, bagaimana pula dengan hal lain? Lantas apalah teman itu?

Ya, ini memang bukan urusanmu. Aku juga tak mengerti mengapa menggunakanmu sebagai pembuka dalam tulisan ini. Mungkin hanya berharap jika kau membaca, lalu kemudian tahu bukan hanya kau yang kenal kata sendiri. Aku pun begitu.

Hanya saja kawan, jika aku bisa menyampaikan padamu. Ketika seluruh dunia pergi menjauh, ingatlah bahwa Tuhan tetap di tempat-Nya. Ketika tak ada tempat berpegang, Tuhan dengan tangan terbuka merangkulmu. Tinggal kita, bagaimana menemukan esensi hidup dan kehidupan, esensi diri, lalu itu akan membawa kita mengenal Tuhan.


Comments

Popular Posts