Melupakan (lagi)

Melupakan.

Lagi-lagi aku memilih untuk lupa. Lupa bagaimana rasa yang lebih dari sekadar suka menggerogoti logika. Lupa bagaimana ia merasuki hati hingga menembus sukma. Lupa bagaimana ketika di tengah pekerjaan yang menumpuk bayangannya hadir sekonyong-konyong merusak konsentrasi. Lupa bagaimana ketika seenaknya saja bibir menyungging senyum yang entah terlihat manis atau justru bodoh.

Perkara melupakan bukan hal yang baru. Bukankah kita sering memilih lupa pada hal-hal yang akhirnya hanya membuat sakit? Tidak, bukan berarti aku sakit saat ini. Aku meragu. Ragu yang sangat besar hingga kembali logika yang menguasai hati.

Aku adalah jiwa yang tak sabar. Aku adalah diri yang ingin kepastian. Bukankah segala tanda telah kita mainkan? Bukankah itu yang selalu terucap darimu? Lalu mengapa di hadapku kau hanya termangu?

Tadinya kukira kau hanya malu. Atau kau hanya menunggu waktu. Atau mungkin terlalu berat bagimu untuk jujur saja. Tadinya kukira begitu. Berulang kali meminta waktu untuk bicara namun tak jua kita menyapa. Bahkan untuk sekadar kata "hallo". Lalu sebenarnya kita ini apa?

Tapi di luar sana, kau umbar semuanya. Bagaimana bisa mereka lebih tahu dari pada aku. Segala istilah yang mereka gunakan merujuk pada kau dan aku. Dan di sana aku hanya melongo tak mengerti. Sejauh apa mereka tahu? Atau semua ini bagian dari leluconmu saja? Begitukah?

Kau tahu, sikapmu yang begitu membuat raguku menjadi yakin. Yakin bahwa mungkin memang kita tidak untuk menjadi "kita". Hanya ada aku saja dan kau saja pada akhirnya. Atau aku keliru? Bicara sajalah. Kita selesaikan saja semua ini.

Sekarang, aku sudah hampir lupa semua tentang rasa itu. Aku hanya ingat teman-temanku menertawai tingkahku saat itu. Tapi aku lupa bagaimana sebenarnya yang terjadi kala itu. Aku hampir lupa bagaimana tatapan malu-malumu. Aku hampir lupa bagaimana matamu memandang. Dan aku lupa, bagaimana dengan tiba-tiba kau menghalau konsentrasiku.

Maafkan. Kupilih untuk melupakan saja..

Comments

Popular Posts