Sepi Pengisi Hati
Kemudian sepi kembali menyapa
Hujan pun mendukung mendung dalam hati
Lupa sudah ia pada cinta yang sejatinya merekah
mengapa pula hati begitu suka pada sepi?
Lantas mengapa cinta seolah tak betah mengisi hati
Adakah hati diciptakan hanya untuk menjadi kosong?
Jika begitu, kasihan sekali kau diri
Bagaimana mungkin kau tak punya utuh?
Mungkinkah hidup hanya punya jasad dan nafas?
Lalu bagaimana dengan hati dan jiwa?
Tidak layakkah diri memperoleh keduanya?
Lengkap, utuh
Bagaimana bisa hidup begitu nelangsa?
Tidak, tak suka aku pada kata itu
Hidup, utuh atau tidak, selamanya adalah hidup
Risau?
Sudah pasti jika tak punya utuh
Namun nelangsa?
Itu hanya soal pilihan, Kawan
Jika sepi adalah pengisi hati
Bukankah hati telah terisi?
Jika Hati telah terisi
Bukankah ia telah utuh?
Hujan pun mendukung mendung dalam hati
Lupa sudah ia pada cinta yang sejatinya merekah
mengapa pula hati begitu suka pada sepi?
Lantas mengapa cinta seolah tak betah mengisi hati
Adakah hati diciptakan hanya untuk menjadi kosong?
Jika begitu, kasihan sekali kau diri
Bagaimana mungkin kau tak punya utuh?
Mungkinkah hidup hanya punya jasad dan nafas?
Lalu bagaimana dengan hati dan jiwa?
Tidak layakkah diri memperoleh keduanya?
Lengkap, utuh
Bagaimana bisa hidup begitu nelangsa?
Tidak, tak suka aku pada kata itu
Hidup, utuh atau tidak, selamanya adalah hidup
Risau?
Sudah pasti jika tak punya utuh
Namun nelangsa?
Itu hanya soal pilihan, Kawan
Jika sepi adalah pengisi hati
Bukankah hati telah terisi?
Jika Hati telah terisi
Bukankah ia telah utuh?
Comments
Post a Comment