Jungkir Balik karena Patah Hati?
"Jangan pernah kenalkan rindu pada kata yang tak terucap, hanya pedih yang kau temui"
ini tentang seorang teman yang entah bagaimana pada pagi indah di kota wisata yang nyaman. Kemudian mengikuriku, yang ingin kembali menikmati indahnya tidur, masuk ke kamar. Dia memainkan ponsel pintarnya, mengambil gambarku yang benam dalam selimut tebal, mengambil gambar dirinya dengan ekspresi wajah yang entah bagaimana. Kemudian setelah sebuah helaan nafas panjang yang dalam memanggilku lirih.
Kesadaranku seketika terkumpul, yakin bahwa dia benar-benar butuh perhatianku yang penuh seluruh. Pelan-pelan dia cerita tentang gundahnya, tentang resahnya, tantang apa yang harusnya dia lakukan (Aku tak ingin tuliskan di sini dengan detail). Dan semua karena rasa patah hati oleh cinta yang telah dibangun selama 6 tahun. Hubungan yang kemudian hilang begitu saja, tanpa kabar lagi dari orang di seberang lautan sana. Yap. C I N T A
Aku hanya mendengarkan dan mendegarkan. Sebenarnya dalam hati berpikir, apa kapasitasku memberikan solusi baginya? Bukankah aku tergolong tuna-asmara? Tapi aku tak akan mengecewakan orang yang telah mempercayakan ceritanya yang terdalam padaku. Tidak. Aku harus belajar mendengar, aku harus belajar berempati. Dan dari semua ceritanya, aku menemukan satu kalimat dan kusampaikan padanya "Kau tidak lagi butuh solusi, kau tahu apa yang harus kau lakukan, Kau hanya sedang ingin bicara saja dan ingin ada yang mendengar saja. Maka apa yang bisa aku lakukan?
Tawanya berderai, luka. Dan kubiarkan dia dengan ceracaunya, tetap kuberi perhatianku. Dia hanya penasaran mengapa si lelaki bisa begitu saja menghilang. dan kita tahu jawabannya, hanya Tuhan yang tahu. Bahkan lelaki itu pun tidak tahu.
Kemudian di satu titik, aku menyadari satu hal dari ceritanya. Sesuatu yang pernah kurasakan dan bisa membuatku melupakan apa dan siapa. Perasaaan seperti menemukan sesuatu yang baru, yang selama ini kita tidak pernah tahu bahwa hal semacam itu ada. sesuatu yang menyedot seluruh perhatian dan menjanjikan kebahagiaan bila kita selami lebih dalam. Sesuatu yang karenanya kita merasa bisa melakukan apa saja dengan orang-orang baru di dalamnya. Sesuatu yang membuat kita merasa, "ada hal yang seperti ini? Ke mana saja aku selama ini?"
Ketika sampai pada titik ini, temanku itu matanya berbinar. Seperti menemukan sebuah petunjuk lagi atas entah teka teki apa yang dirasakannya. Tapi kemudian wajahnya benam dalam tangkupan telapak tangannya. Kubiarkan saja dia, tidak kurangkul apalagi kudekap. Dia hanya membutuhkan dirinya sendiri.
Setelah dia kuasai dirinya kembali, baru kuteruskan. Biarkan saja waktu yang menjawab segala tanyamu, mengobati segala lukamu. Tidak ada yang salah dengan mencintai orang yang sama dengan cara yang tetap sama meski kau berulang kali terluka olehnya. Mungkin hubungan memang sebuah kesepakatan, tapi cinta, siapa yang bisa bersepakat soal cinta?
Comments
Post a Comment