Tentang rindu pada orang asing

Entah bagaimana tiba-tiba ini terjadi. Bukan sebuah tragedi, mungkin hanya sedang jatuh hati. Sebuah kejadian yang biasa saja bukan? Memang begitu. Ini normal saja. Laki-laki dan perempuan kemudian saling berkomunikasi. Mereka tak pernah kenal sebelumnya. Hanya bicara lewat email atau aplikasi whatsapp di android dan sesekali lewat telepon.

Ini sungguh suatu yang biasa saja. Berbicara soal pekerjaan, menanyakan perkembangan. Tapi sesekali, obrolan jadi melebar ke mana-mana. Soal media, masa kuliah. Tentang rapat program yang mungkin akan mencekam, kekhawatiran akan mendapat tekanan yang berlebihan. Hingga tentang ibu dan keajaiban doa darinya. Ibu? Ya, perbincangan yang entah bagaimana bisa masuk ke tema itu. Kemudian aku jatuh hati padanya. Hanya karena sebuah pernyataan darinya yang membuatku mencintai ibuku lebih dari sebelumnya. Tentu saja dia tidak tahu dan tak mengerti.

Aku terkagum padanya  yang begitu meletakkan kekuatannya pada doa ibu. Dia yang sangat percaya apapun bisa dihadapinya selama doa ibu bersamanya. Kita tahu bagaimana kompleksnya hubunganku dengan ibu. Setidaknya kurasa begitu, ibuku mungkin tak merasa demikian. Di satu sisi, aku malu karena sebagai anak, egoku masih terlalu tinggi. Dan dia, lelaki itu hanya dalam satu baris ketikan pesan, mampu melunturkan walau hanya sedikit saja keegoan itu.

Kemudian hari-hari berlalu. Cerita masih berlanjut walau berkurang. Mungkin kami sedang sama-sama sibuk. Masih beberapa hari dan aku sudah merindukan malam-malam dengan ketikan panjang di layar ponsel. Karena dengan cara itu kami berbagi cerita.

Sebenarnya ini biasa. Tapi ini pertama kali aku merasakan rindu pada orang yang bahkan belum pernah kutatap matanya. Ini pertama kali aku bisa nyaman mendengar orang yang baru kukenal bercerita apa saja dan akupun merasa didengarkan. Ini pertama kali menemukan orang baru dengan begitu banyak kesamaan. Suka pada anak-anak, buku, kopi, durian,, alam. Dan lebih jauh, kami sesama Intuiting ekstrovert. hahahahhaha. Sebuah kebetulankah?

Tapi aku tak ingin larut lebih dalam. Bagaimanapun ini hanya hubungan profesional, Setidaknya selama program ini berlangsung. Selepas itu, terserah bakal apa jadinya kami. Teman, atau mungkin aku berharap lebih, terserah. Cukup dengan semua rasa yang tak berbalas. Aku jengah.

Dan padamu, telah kutitipkan salam lewat angin dan hamparan bintang. Entah kau bisa dengar, entah kau bisa lihat. Aku hanya sedang memasuki euforia sebuah kebetulan yang langka.

Comments

Popular Posts