Kekosongan yang Penuh
Pernahkah Kau tiba-tiba merasa kosong, kemudian hampa yang panjang. Benar-benar kosong. Dalam waktu panjang yang sebenarnya hanya hitungan detik. Tapi terasa panjang. Karena saat itu Kau bahkan tak bisa lagi menyadari waktu. Kau sadar sebenarnya itu waktu yang sangat singkat mana kala menyadari jarum panjang pada jam dinding masih di tempat yang sama seperti saat terakhir kau melihatnya, sebelum kosong yang hampa itu datang.
Kubilang hampa, tapi sebenarnya kau benar merasa penuh. Entah penuh dengan apa. Sebuah suasana yang tidak dapat dideskripsikan dengan seluruh. Karena kau hanya tahu rasanya hanya ketika kau rasakan itu. Kemudian Kau dapati diri sedang berbincang, entah dengan siapa. Seolah yang kau ajak bicara itu menjawab setiap kata yang kau utarakan.
Kemudian Kau tersentak. Merasa sedari tadi sedang berbincang dengan Tuhan, atau apapun Zat yang kau anggap itu Tuhan (kita punya persepsi yang berbeda soal Tuhan kan?). Kau merasa begitu ingin dekat dengan Tuhan, Kau begitu ingin Dia menyayangimu penuh seluruh. Kau ingin merasa nyaman ketika bersandar pada-Nya.
Kadang kupikir, sebenarnya saat seperti itu kita hanya bermonolog pada diri sendiri. Begitu terbuai dengan kekosongan yang penuh tadi sehingga merasa saat itu Tuhan datang menyapa. Entahlah. Aku percaya Tuhan selalu punya cara untuk menyapa ciptaan-Nya. Tapi terlalu Ge-Er rasanya jika Tuhan datang begitu saja. Kemudian memberikan penyadaran dengan semua kealpaan selama ini. Memangnya siapa Kita? Siapa Kau? Siapa Aku?
Tapi pernah aku berpikir, kita akan mampu mengenal Dia setelah kita benar-benar mengenal diri. Jika sekarang kau minta bagaimana aku menjelaskannya, jangan tanya kawan, pasti aku tak bisa. Aku hanya merasa tenang saat "hampa" sesaat itu menyapa. Kemudian mencoba mereka-reka bahasa yang bisa menjabarkan apa yang kurasa itu.
Comments
Post a Comment