Melupakan
Salam berbahagia selalu untukmu. Semoga Kau dan aku akan selamanya berbahagia dengan kondisi yang terus begini. Dalam kondisi yang tak bisa menjadi "Kita". Kau ingat saat kubilang aku menulis segala kisah tentangmu? Kau ingat saat itu kukatakan rasaku padamu adalah dosa? Dan aku dengan sengaja berlama-lama membenamkan diri pada rasa itu padamu, kemudian menuliskan kisah tentangmu yang dibumbui khayalku. Begitupun juga menulis sajak untukmu.
Saat itu aku berdalih, biarlah kupuaskan segala khayal tentangmu agar segera setelah itu aku bosan mengkahyalmu lalu kemudian melupakanmu. Agaknya aku cukup berhasil. Awalnya sesekali sempat masih bergetar setiap melihat akunmu aktif. Atau tanpa sengaja aku melihat wajahmu pada foto dalam laptopku. Lantas kemudian aku pelan-pelan bisa tak lagi berasa. Kosong. tidak ada lagi Kau, atau siapapun lagi selain keluargaku.
Jujur saja aku merindukan saat-saat aku seperti begitu memujamu. Menikmati saat darah berdesir lebih cepat. Saat jantung berdetak tak menentu. Saat tanpa kuasa bibir melengkungkan senyum, merekah, setiap kali kujumpai segala yang mengingatkanku padamu. Aku rindu itu. Tapi sekarang, Kau lihat, aku tak lagi begitu. Melupakanmu, dan sialnya turut pula mengosongkan hati dari rasa yang begitu indah.
Sekarang, sekuat apa pun aku ingin rasa itu kembali, tetap tak bisa. Sepertinya kali ini akalku begitu kuat membentuk perisai untuk membentengi hati. Dan rasa itu mati bahkan sebelum kau tahu. Dan memang seharusnya kau tak perlu tahu. Kau tahu, aku berani kembali berbicara denganmu setelah rasa itu kutanam jauh dalam hatiku.
Bukan, seharusnya kubilang setelah rasa itu kubuang jauh entah ke mana.
Tapi sial. Bersamaan dengan proses melupakan pula kisah itu tak lagi bisa kuteruskan. Mungkin sebaiknya kubilang belum lagi bisa kusambung. Aku bahkan hampir lupa bagaimana seharusnnya karakter tokoh utama dalam ceritaku, yang semuanya kuadopsi dari sosokmu. Saat melanjutkan menulis cerita itu, aku seperti kehilangan nyawa dalam tulisanku.
Sungguh bukan ini yang kumau. Aku hanya ingin melupakan rasa itu padamu, bukan lupa pada sosokmu utuh. Kau tahu, aku ingin tetap menulis kisah 'seandainya memang begitu' yang terjadi antara kita. Bagaimanapun cerita ini harus selesai. Dan bagaiman aku bisa menyelesaikannya jika aku telah lupa padamu?
Ah, sudahlah. Akan kutulis saja apapun. Terlalu mengingatmu pun akan berbahya bagiku.
Memaksakan diri untuk mengingatmu pasti akan kembali membuatku terkenang.Bukan tidak mungkin jika kemudian aku terserang rasa itu lagi. Aku tak mau itu. Kau pun pasti tak mau.
Salamku untukmu. Semoga bahagia selalu menyertai kita
Saat itu aku berdalih, biarlah kupuaskan segala khayal tentangmu agar segera setelah itu aku bosan mengkahyalmu lalu kemudian melupakanmu. Agaknya aku cukup berhasil. Awalnya sesekali sempat masih bergetar setiap melihat akunmu aktif. Atau tanpa sengaja aku melihat wajahmu pada foto dalam laptopku. Lantas kemudian aku pelan-pelan bisa tak lagi berasa. Kosong. tidak ada lagi Kau, atau siapapun lagi selain keluargaku.
Jujur saja aku merindukan saat-saat aku seperti begitu memujamu. Menikmati saat darah berdesir lebih cepat. Saat jantung berdetak tak menentu. Saat tanpa kuasa bibir melengkungkan senyum, merekah, setiap kali kujumpai segala yang mengingatkanku padamu. Aku rindu itu. Tapi sekarang, Kau lihat, aku tak lagi begitu. Melupakanmu, dan sialnya turut pula mengosongkan hati dari rasa yang begitu indah.
Sekarang, sekuat apa pun aku ingin rasa itu kembali, tetap tak bisa. Sepertinya kali ini akalku begitu kuat membentuk perisai untuk membentengi hati. Dan rasa itu mati bahkan sebelum kau tahu. Dan memang seharusnya kau tak perlu tahu. Kau tahu, aku berani kembali berbicara denganmu setelah rasa itu kutanam jauh dalam hatiku.
Bukan, seharusnya kubilang setelah rasa itu kubuang jauh entah ke mana.
Tapi sial. Bersamaan dengan proses melupakan pula kisah itu tak lagi bisa kuteruskan. Mungkin sebaiknya kubilang belum lagi bisa kusambung. Aku bahkan hampir lupa bagaimana seharusnnya karakter tokoh utama dalam ceritaku, yang semuanya kuadopsi dari sosokmu. Saat melanjutkan menulis cerita itu, aku seperti kehilangan nyawa dalam tulisanku.
Sungguh bukan ini yang kumau. Aku hanya ingin melupakan rasa itu padamu, bukan lupa pada sosokmu utuh. Kau tahu, aku ingin tetap menulis kisah 'seandainya memang begitu' yang terjadi antara kita. Bagaimanapun cerita ini harus selesai. Dan bagaiman aku bisa menyelesaikannya jika aku telah lupa padamu?
Ah, sudahlah. Akan kutulis saja apapun. Terlalu mengingatmu pun akan berbahya bagiku.
Memaksakan diri untuk mengingatmu pasti akan kembali membuatku terkenang.Bukan tidak mungkin jika kemudian aku terserang rasa itu lagi. Aku tak mau itu. Kau pun pasti tak mau.
Salamku untukmu. Semoga bahagia selalu menyertai kita
Comments
Post a Comment