Tentang Kopi dan Cokelat

Bagaimana secangkir kopi, atau barangkali sebatang cokelat dapat memberikan efek tenang dalam diriku. Atau mungkin ini juga berlaku bagi tubuhmu? Banyak hasil penelitian yang dipublikasikan memuat tentang ini. tapi aku tak pernah hiraukan itu. Apakah banyak baiknya? Atau efek buruk yang lebih mendominasi? Yang penting, saat aku ingin, aku lahap saja kopi atau cokelat yang sengaja kubeli di warung. tak jarang aku beli mereka di mini market yang marak beredar di kota hingga pelosok. Lebih mudah bagiku memilih jenis penganan yang kuinginkan yang tertata rapi di rak-rak.

 Jika bosan plus ngantuk menyerang, maka kopi, atau cappucino menjadi pengalihan yang mantap. Sesekali cokelat dengan ukuran cukup besar menjadi camilan yang memanjakan mulut. Meski Kau tahu, kata orang tidak bersahabat dengan berat badanmu. Terserahlah. Aku akan makan apa saja yang ingin kumakan.

Betapa bagi sebagian orang kopi dan cokelat bisa jadi candu yang wajib kudu ada setiap hari, bahkan setiap saat. Tapi tenang kawan, aku belum separah itu. Ketersedian uang di kantongku masih menjadi faktor penentu untuk memenuhi hasratku mengkonsumsi dua jenis penenang ini.

Tapi sepertinya, tidak adil rasaku hanya menyebut kopi dan cokelat. Kau harus tahu, aku juga sesekali mengkonsumsi ice cream dengan segala ragamnya. Jika kau tanya yang mana dari ketiganya menjadi favoritku, akan kujawab kopi. Alasannya? Simpel saja. Kopi paling murah yang bisa kubeli, apalgi kopi kemasan yang biasa dijual di mana-mana. Dari sini, layakkah itu disebut favorit? Kukira sebaiknya kukatakan yang paling sering kukonsumsi.

Beberapa orang menerka-nerka filosofi apa yang terkandung dalam ketiga jenis makanan itu. Entah dari sisi bentuk, warna, ha, paling sering dari sisi rasa. Paduan pahit dengan manis, atau mungkin bentuknya yang manis. Atau efek rasa yang tertinggal di mulut, dan bla, dan bla. Kubilang menerka, karena makna terletak pada perasaan manusia itu sendiri. Manusia senang membuat analogi-analogi dari benda-benda yang mereka temui. Aku kadang suka begitu. Tapi lebih sering hanya menikmati saja. Persetan dengan semua filosofi yang mereka coba bangun. Aku hanya peduli soal rasa, enak atau tidak. Cukup.

Hahahaha,,bosan juga berceracau soal hal yang tidak penting-penting amat. Tapi sesekali tak apalah. Bukankah kadang manusia suka bercerita apa saja. Tidak peduli ada yang dengar atau tidak. Tidak peduli ada yang baca atau tidak. Segala omelan, apapun bentuknya sama saja. Dan satu hal, tidak ada yang salah tentang itu, kawan. Sesekali pun kau perlu dengar celotehan temanmu yang kau kira tidak penting. Dan jangan lupa, kau pun perlu membatasi diri untuk bercerita hal yang belum tentu penting menurut orang lain.

Comments

Popular Posts