Cerita Mistis Si Kolam Putri
Setiap daerah memiliki
ceritanya sendiri. Tak jarang cerita itu dibumbui mistis yang sulit diterima
akal sehat namun begitu mudah diyakini masyarakat sekitarnya. Meski begitu, pesona
alam tetaplah sebuah pesona yang layak untuk dinikmati.
Kurang lebih dua bulan
lau, tepatnya di awal April, Antonius Sembiring melihat sebuah cahaya berwarna
merah, putih, kuning dan biru di dekat rumahnya. Diikutinya cahaya itu, menuju
sebuah ladang tak jauh dari rumahnya. Dari sana, Antonius yang biasa disapa
Bero merasa mendapatkan semacam amanah untuk menggali tanah di ladang itu.
Cahaya tadi kemudian terbang ke angakasa dan menjadi bulan sabit . Bero bilang
ini bukan mimpi. Percaya atau tidak, Bero merasa mengalami semua iu secara
nyata.
.
Bero
menggali tanah itu. Di bawah tanah tersebut ternyata terdapat sumber mata air
panas yang mengandung belerang. Kata Bero menurut amanah dia harus menggalinya
sendiri tanpa bantuan siapapun. Pernah ada yang membantu, namun tanah yang digali
berubah keras menjadi batu yang tajam. Bero menggali delapan kolam air panas.
Tempat
itu bernama Gua Tao Delapan Putri. Berada di Desa Sibunga-bunga Kecamatan
Sinembah Tanjung Muda Hulu, biasa disebut STM Hulu Kabupaten Deli Serdang.
Letaknya kurang lebih seratus meter di
belakang Danau Linting yang lebih dulu dikenal sebagai objek wisata. Butuh
waktu satu setengah jam berkendara dari Medan.
Masing-masing
kolam memiliki warna yang berbeda. Ada yang abu-abu, hijau toska hingga bening.
Kedelapannya memiliki nama dan khasiat masing-masing. Di antaranya ada mata air
cinta dan rezeki. Bero enggan menyebut nama yang lainnya. Hanya dua kolam yang
boleh digunakan untuk berendam, selebihnya hanya untuk mencuci muka.
“Selain
yang dua kolam ini, semua dimiliki oleh putri-putri,” Kata Bero. Kita tidak
akan bis melihat putri yang dimaksud oleh Bero. Karena putri yang dia maksud
memang tak kasat mata.
Dua
kolam air panas ini menurut Bero dapat mengobati berbagai penyakit. Seperti
penyakit kulit, rematik, asam urat dan kolesterol. Jangan bayangkan kolam di
sini seperti yang ada di Debuk-debuk. Koalm di sini adalah kolam yang masih
alami, hanya tanah tanpa semen. Setiap kolam adalah sumber mata air tersendiri.
Abdul
Wahab sudah merasakan sendiri manfaat kolam air panas ini. Usianya 69 tahun dan
menderita stroke sejak delapan tahun terakhir. Wahab tinggal tak jauh dari
sana, masih di Tiga Raja. Hari itu, 19 Juni 2013, kami bertemu saat berkunjung
ke sana. Wahab baru saja selesai diterapi oleh Bero. Tadinya dia menggunakan
tongkat saat ke tempat ini. namun setelah berendam di air panas dan dikusuk
Bero, Wahab sudah bisa berjalan tanpa tongkat meski masih tertatih. Itu adalah
kunjungan pertamanya.
Saat
itu juga ada pengunjung lain, Sudarwiyah namanya. Usianya 58 tahun. Warga
Tanjung Morawa ini mulanya hanya ingin berkunjung ke Danau Linting. Kemudian
dari penjaja makanan di sana dia tahu ada sumber air panas ini. Dia pun mencoba
berendam di kolam air panas ini. “Badan terasa lebih enak setelah berendam,”
Kata Sudarwiyah. Sudarwiyah memiliki penyakit asam urat.
Dari semua kolam yang
ada, kolam mata air cinta yang paling jernih. Kita bisa melihat bagaimana air
keluar dari celah batu di balik tanah saking jernihnya. Airnya cukup panas dan
berbau belerang. Kolam ini hanya diperbolehkan untuk mencuci muka. Dipercaya
jika mencuci muka di sini kita akan enteng jodoh.
Mencuci muka di kolam
ini bisa memperhalus wajah. Wajah tidak lagi berminyak setelah membasuhnya
dengan air ini. Bero bilang, dari lumpur yang ada di kolam ini bisa dihasilkan bedak untuk mengobati
jerawat. Masuk akal mengingat kandungan belerang yang ada di sana.
Di sekitar kolam-kolam
ini terdapat dua gua yang disebut Gua Tao Delapan Putri. Kedua gua ini
menghadap ke arah kolam-kolam tersebut. Yang satu disebut Gua Laki-laki dan
satunya lagu Gua Perempuan. Disebut gua perempuan karena menurut Bero gua
tersebut terlihat seperti orang yang menggunakan tudung. Tudung adalah hiasan
epala pada pakaian adat Karo.
Gua perempuan disebut
juga gua atap emas karena di dinding atas gua ini terdapat butiran-butiran
seperti emas. Gua ini kecil saja, hanya muat enam orang dewasa dalam posisi
berdiri di dalamnya. Ada rokok di mulut gua, sisa sesembahan masyarakat
sekitar yang masih percaya pada ruh
leluhur. Terhitung 19 Juni 2013, gua ini baru ditemukan sebelas hari oleh Bero,
yang sekaligus menjadi juru kunci tempat ini. Bero menggali tanah di sana
sesuai dengan amanah gaib yang diterimanya.
Gua laki-laki berukuran
lebih luas. Dari luar tak ada tanda-tanda gua ini layak dinamai gua laki-laki,
tak seperti pada gua perempuan. Tapi dari dalam kitabisa melihat bedanya. Atap
gua ini menjulang ke atas. Cukup mirip layaknya lelaki yang mengenakan bulang,
hiasan kepala orang Karo.
Di kedua gua ini masih
ada sisa persembahan warga kepada penunggu gua. Ada beberapa batang rokok
disana, beberapa sisa dibakar, beberapa utuh. Kate Bero warga sekitar sana
masih banyak yang percaya pada kekuatan gaib.
Menjangkau lokasi ini
tidak sulit. Hanya melewati jalan beraspal sesekali berlubang. Kendaraan pun
bisa diparkir di tepian Danau Linting. Tidak ada jalanan terjal yang harus
dilewati. Masuk ke lokasi wisata Danau Linting dikenai biaya Rp 5 ribu per
orang. Di lokasi Kolam Delapan Putri dikenai biaya Rp 7 ribu, sudah termasuk
biaya masuk gua dan berendam di kolam air panas. Tidak ada batas waktu yang
ditentukan.
Terlepas cerita mistis
yang mengiringi keberadaan kolam putri, tempat ini cukup layak dikunjungi.
Biaya yang tergolong terjangkau. Tempat ini dapat pula dianggap sebagai bonus
setelah menikmati keindahan Danau Linting dengan airnya yang berwarna hijau
tosca.
pernah dimuat di majalah Sumatra&Beyond
aseek
ReplyDelete